Artikel ini mengupas perlakuan masyarakat mayoritas Muslim terhadap situs keagamaan minoritas. Biasanya, eksistensi situs suatu agama menunjukkan warga penganut agama tersebut di suatu daerah. Akan tetapi, candi Hindu Panataran memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Meskipun canti ini adalah termasuk candi Hindu, tetapi mayoritas penduduk di sekitarnya adalah beagama Islam. Mereka yang beragama Hindu, bahkan Islam, masih mengunjungi candi ini. Tidak semata-mata untuk rekreasi, tetapi juga untuk mengikuti ritual keagamaan. Kenyataan ini memicu pertanyaan, bagaimana sebuah candi Hindu masih bias hidup sebagai situs keagamaan di tengah masyarakat mayoritas beragama Islam? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, peneliti melakukan pengamatan pada wilayah sekitar candi, wawancara dengan para pemangku situs dan warga sekitar. Fenomena tersebut tidak lain adalah ekspresi ‘culturalized religion’ yang diwujudkan dalam ekosistem kebudayaan.
Copyrights © 2022