The rise of Islamic militancy among Indonesian Salafis closely relates to their literal understanding of the hadith as the resource of their religious doctrines, with Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī (1914-1999) as the most referenced figure. This article analyses how the thought of al-Albānī on hadith impacted Islamic militancy development in Indonesia. The writer argues that al-Albānī’s pupils support the rapid spread of his thinking on the hadith with their book publishers, organisations, and Salafi pesantrens. Meanwhile, the impact of al-Albānī’s thoughts on the Salafi movement in Indonesia appears in three notions: the domination of the textual understanding of the hadiths, the growth of al-Lā Madhhabiyyah (not relying on any classical madhab of fiqh), and the taṣfiyah and tarbiyah program. According to al-Albānī, the program of taṣfiyah and tarbiyah is the only way to build an Islamic society, which is a condition for the establishment of the Islamic Sharia and the Islamic State (Daulah Islāmiyyah).[Munculnya gerakan Islam militan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari model pemahaman hadis yang literal dengan tokoh rujukan Muḥammad Nāṣiruddīn al-Albānī (1914-1999). Artikel ini menganalisis pemikiran al-Albānī tentang hadis, yang berdampak pada militansi Islam di Indonesia. Temuan dari tulisan ini adalah: 1) massifnya penyebaran pemikiran al-Albānī didukung oleh para murid al-Albānī yang mengembangkan penerbit buku, ormas, dan pesantren salafi; 2) dampak pemikiran al-Albānī terhadap pemikiran Salafi di Indonesia dapat dilihat pada tiga hal: dominasi pemahaman tekstual; tumbuhnya gerakan al-Lā Madhhabiyyah (paham untuk tidak bertumpu pada mazhab fikih klasik tertentu); dan program taṣfiyah dan tarbiyah. Menurut al-Albānī, tanpa taṣfiyah dan tarbiyah, tidak mungkin bisa terbangun masyarakat Islami yang menjadi syarat bagi tegaknya syariat Islam dan berdirinya negara Islam].
Copyrights © 2023