Fenomena sektor informal diibaratkan sebagai lingkaran setan yang menerpa daerah perkotaan. Ada stigma negatif yang memposisikan kelompok sektor informal sebagai kaum pinggiran kota yang acapkali menjadi objek kekuasaan pemerintah daerah. Penyebabnya adalah sektor informal dipandang sebagai kelompok ekonomi informal yang kurang memiliki prospek dan tidak dapat berkembang dalam pranata ekonomi. Selain itu, sektor informal bekerja hanya mempertahankan subsistensi dan lemah pada akses informasi serta sulit menjangkau teknologi. Hal ini acapkali kegiatan sektor informal terhadang oleh represif pemerintah karena dapat mengganggu kebijakan serta menghambat modernisasi dan pertumbuhan pembangunan daerah. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana perjuangan migran di sektor informal dalam ruang – ruang ekonomi baik publik maupun privat seperti di arena sosial ekonomi. Secara metodologis, makalah menggunakan penelitian kualitatif untuk menganalisis data yang tertulis dengan para informan di kota Merauke. Temuan menguraikan bahwa para migran di sektor informal bertarung di arena ekonomi melalui modal sosial dan modal budaya sebagai basis ekonomi dalam merebut ruang ekonomi di kota Merauke. Dengan demikian, modal sosial dan modal ekonomi di reproduksi sebagai modalitas yang dipertaruhkan di arena ekonomi untuk mencapai eksistensi di sektor Informal.
Copyrights © 2023