Permasalahan kelelahan kerja terjadi di berbagai sektor industri, tak terkecuali pada industri pertambangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kelelahan pada pengemudi alat berat yang bekerja selama 12 jam berdasarkan parameter kelelahan subjektif , membuat model kelelahan operator yang dipengaruhi oleh speed dan productivity, serta menentukan tingkat risiko kelelahan yang ada saat ini di industri pertambangan berdasarkan sistem kelelahan manajemen di perusahaan tambang. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif. Lokasi penelitian di perusahaan pertambangan pada PT. Pamapersada Nusantara. Waktu penelitian tahun 2022. Partisipan pada penelitian adalah 43 operator alat berat Dump yang mengoperasikan unit Truck Komatsu HD785. Pengukuran kelelahan subyektif diukur dengan Karolinska Sleepness Scale (KSS) dan Fatigue-Visual Analogue Scale (F-VAS). Teknik analisis data adalah analisis deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunujukkan bahwa secara umum berdasarkan grafik nilai KSS dan F-VAS seiring berjalannya waktu tingkat kelelahan operator akan semakin meningkat dan mencapai puncak kelelahan pada waktu sesaat sebelum rest time (12:00). Setelah istirahat tingkat kelelahan akan menurun dan seiring berjalannya waktu sampai dengan akhir shift maka tingkat kelelahan akan kembali naik. Sementara itu untuk kecepatan dan produktivitas, seiring berjalannya waktu nilai kecepatan dan produktivitas akan menurun dan kembali meningkat saat menjelang akhir shift. Model hubungan Speed dan Produktivitas dengan KSS dan F-VAS ini bisa bersifat negatif atau positif untuk waktu yang berbeda dalam satu hari kerja. Adapun manajemen risiko dari kelelahan kerja adalah dengan melakukan mitigasi risiko, antara lain Pengurangan kemungkinan risiko (risk likehood reduction), berbagi risiko (risk-sharing) atau penyebaran risiko (spreading risk); dan transfer risiko (risk transfer).
Copyrights © 2023