This tourist village raises cultural potential, namely batik as an educational tourist object. This educational tour is carried out by giving lessons to tourists about the history of Girilayu written batik, besides that tourists are also invited to practice mancanting or making written batik on a piece of cloth. The Girilayu Batik Tourism Village is included in the Pilot Village which needs to get encouragement from other parties in its development. Therefore, the government is trying to develop a Batik Tourism Village by establishing social network relations with the surrounding community and outsiders. This study aims to analyze social networks in the development of the Girilayu Batik Tourism Village in a sustainable manner using the Social Network Theory approach of Mark Granovetter. The research method chosen in this study is a qualitative research method with a case study type of research. Data collection techniques used are through interviews, observation, and documentation. The results of the study show that the village government has built social network relations by forming associations and tourism awareness groups, establishing relationships with Bank Indonesia, establishing relationships with related agencies, as well as with managers of surrounding tourist areas. The social networks formed have impacts in their respective dimensions and have their respective actors. However, these dimensions cannot be put together in one combination because they are different things so that the network will be active if it is related or intersects with other dimensions in realizing sustainable tourism.Keywords: Tourism Village, Batik, Village Government, Social Network, Sustainable Tourism AbstrakDesa wisata Batik Girilayu merupakan desa wisata yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Desa wisata ini mengangkat potensi budaya yaitu batik sebagai objek wisata edukasi. Wisata edukasi tersebut dilakukan dengan memberikan pelajaran bagi wisatawan tentang sejarah batik tulis Girilayu, selain itu wisatawan juga diajak praktek mancanting atau membuat batik tulis pada selembar kain. Desa Wisata Batik Girilayu termasuk kedalam Desa Rintisan yang perlu mendapatkan dorong dari pihak lain dalam pengembangannya. Oleh sebab itu, pemerintah berupaya mengembangan Desa Wisata Batik dengan menjalin relasi jaringan sosial dengan masyarakat sekitar dan pihak luar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jaringan sosial dalam pengembangan Desa Wisata Batik Girilayu secara berkelanjutan dengan pendekatan Teori Jaringan Sosial dari Mark Granovetter. Metode penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa telah membangun relasi jaringan sosial dengan membentuk paguyuban dan kelompok sadar wisata, menjalin relasi hubungan dengan Bank Indonesia, menjalin relasi hubungan dengan dinas terkait, serta dengan pengelola daerah wisata sekitar. Jaringan sosial yang dibentuk memiliki dampak dalam dimensinya masing-masing dan memiliki aktor masing-masing. Akan tetapi, dimensi-dimensi tersebut tidak dapat disatukan dalam satu gabungan karena merupakan sebuah hal yang berbeda sehingga jaringan tersebut akan aktif apabila berkaitan atau beririsan dengan dimensi lainnya dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan.
Copyrights © 2023