Cirebon memiliki dua model pemerintahan, Keraton Kasepuhan sebagai pemerintahan kultural dan Pemerintah Kota sebagai pemerintahan struktural.Keberadaan dua pemerintahan tersebut, tentunya sangat rentan akan konflik jika tidak dilakukan upaya pemeliharaan hubungan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi pemangku jabatan Keraton Kasepuhan dengan pejabat Pemkot. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Teori yang digunakan adalah interaksionisme simbolik yang dicetuskan oleh George Herbert Mead.Penelitian ini juga menggunakan konsep pola komunikasi formal dan informal yang digagas oleh Khomsahrial Romli. Selain itu, digunakan juga konsep pola komunikasi menurut H.A.W.Widjaya dalam bukunya Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Ada empat pola komunikasi, yaitu: pola roda, pola rantai, pola lingkaran dan pola bintang.Hasil dari penelitian ini, yaitu pola komunikasi yang digunakan oleh pemangku jabatan Keraton Kasepuhan dan pejabat Pemkot adalah pola-pola komunikasi yang berorientasi pada kesetaraan komunikator, seperti pola bintang dan pola horizontal. Pola bintang dan pola horizontal memungkinkan setiap komunikator untuk saling bertukar pesan dan respon secara langsung, tanpa memandang status sosial ataupun hal-hal yang dapat membedakan hak-hak komunikator dalam berbicara.
Copyrights © 2020