Fatmawati Fatmawati
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pola Komunikasi Pemangku Jabatan Keraton Kasepuhan dengan Pejabat Pemerintah Kota Cirebon Fatmawati Fatmawati
Hikmah Vol 14, No 2 (2020): JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v14i2.2662

Abstract

Cirebon memiliki dua model pemerintahan, Keraton Kasepuhan sebagai pemerintahan kultural dan Pemerintah Kota sebagai pemerintahan struktural.Keberadaan dua pemerintahan tersebut, tentunya sangat rentan akan konflik jika tidak dilakukan upaya pemeliharaan hubungan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola komunikasi pemangku jabatan Keraton Kasepuhan dengan pejabat Pemkot. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.Teori yang digunakan adalah interaksionisme simbolik yang dicetuskan oleh George Herbert Mead.Penelitian ini juga menggunakan konsep pola komunikasi formal dan informal yang digagas oleh Khomsahrial Romli. Selain itu, digunakan juga konsep pola komunikasi menurut H.A.W.Widjaya dalam bukunya Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Ada empat pola komunikasi, yaitu: pola roda, pola rantai, pola lingkaran dan pola bintang.Hasil dari penelitian ini, yaitu pola komunikasi yang digunakan oleh pemangku jabatan Keraton Kasepuhan dan pejabat Pemkot adalah pola-pola komunikasi yang berorientasi pada kesetaraan komunikator, seperti pola bintang dan pola horizontal. Pola bintang dan pola horizontal memungkinkan setiap komunikator untuk saling bertukar pesan dan respon secara langsung, tanpa memandang status sosial ataupun hal-hal yang dapat membedakan hak-hak komunikator dalam berbicara.
Digital Da’wah Management and Anti-Hoax Literacy: A Multicultural Local Wisdom Reading: Manajemen Dakwah Digital dan Literasi Anti-Hoaks: Pembacaan Kearifan Lokal Multikultural Fatmawati Fatmawati; Nunung Khoiriyah; Armawati Arbi; Kalsum Minangsih
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 25 No. 1 (2026): Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/alhadharah.v25i1.20548

Abstract

The proliferation of hoaxes across digital platforms presents a significant challenge for adolescent religious education and contemporary da’wah practice in Indonesia. This study examines digital-based media literacy as a strategic instrument of da’wah management and reads it through a multicultural local-wisdom lens to understand anti-hoax behavior among adolescents. The research employs a quantitative explanatory approach using a cross-sectional survey, distributing questionnaires to 100 students drawn from five State Senior High Schools (SMA Negeri) across the Greater Jakarta metropolitan region, namely Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek), with schools selected purposively and respondents drawn randomly within each school. Data analysis utilized simple linear regression through SPSS version 20.0, followed by an interpretive analysis that maps the statistical findings onto da’wah management functions and the region’s multicultural local wisdom, encompassing Betawi musyawarah-mufakat and gotong royong, Sundanese silih asih, silih asah, silih asuh, alongside the Islamic principle of tabayyun. The findings indicate that digital media literacy is positively and significantly associated with anti-hoax behavior, accounting for 53.8 percent of the variance in the sample. The study positions digital media literacy as a contemporary form of da’wah bil-hikmah operating through systematic planning, organizing, actuating, and controlling functions, with multicultural local wisdom and Islamic ethics serving as an interpretive framework rather than a measured variable. Given the small, purposively selected sample, the findings describe the surveyed students and are not generalizable to all adolescents in Jabodetabek or Indonesia. KEYWORDS digital da'wah management; media literacy; anti-hoax behavior; local wisdom; tabayyun
Digital Da’wah Management and Anti-Hoax Literacy: A Multicultural Local Wisdom Reading: Manajemen Dakwah Digital dan Literasi Anti-Hoaks: Pembacaan Kearifan Lokal Multikultural Fatmawati Fatmawati; Nunung Khoiriyah; Armawati Arbi; Kalsum Minangsih
Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 25 No. 1 (2026): Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/alhadharah.v25i1.20548

Abstract

The proliferation of hoaxes across digital platforms presents a significant challenge for adolescent religious education and contemporary da’wah practice in Indonesia. This study examines digital-based media literacy as a strategic instrument of da’wah management and reads it through a multicultural local-wisdom lens to understand anti-hoax behavior among adolescents. The research employs a quantitative explanatory approach using a cross-sectional survey, distributing questionnaires to 100 students drawn from five State Senior High Schools (SMA Negeri) across the Greater Jakarta metropolitan region, namely Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (Jabodetabek), with schools selected purposively and respondents drawn randomly within each school. Data analysis utilized simple linear regression through SPSS version 20.0, followed by an interpretive analysis that maps the statistical findings onto da’wah management functions and the region’s multicultural local wisdom, encompassing Betawi musyawarah-mufakat and gotong royong, Sundanese silih asih, silih asah, silih asuh, alongside the Islamic principle of tabayyun. The findings indicate that digital media literacy is positively and significantly associated with anti-hoax behavior, accounting for 53.8 percent of the variance in the sample. The study positions digital media literacy as a contemporary form of da’wah bil-hikmah operating through systematic planning, organizing, actuating, and controlling functions, with multicultural local wisdom and Islamic ethics serving as an interpretive framework rather than a measured variable. Given the small, purposively selected sample, the findings describe the surveyed students and are not generalizable to all adolescents in Jabodetabek or Indonesia. KEYWORDS digital da'wah management; media literacy; anti-hoax behavior; local wisdom; tabayyun