Krisis pengungsi di Eropa pada tahun 2015 menyebabkan Uni Eropa kesulitan untuk mengatasi hal tersebut dan mendorong Jerman mengeluarkan kebijakan open door policy atau kebijakan pintu terbuka untuk menerima pengungsi ke negaranya tanpa hambatan dan batasan. Pasca diterimanya pengungsi-pengungsi tersebut di tahun bersamaan aksi terorisme terjadi di Jerman dan bahkan terjadi juga di negara tetangga Jerman yaitu Perancis hingga menewaskan ratusan orang. Pada tahun 2016, beberapa aksi terorisme kembali terjadi di Jerman bahkan mencapai puncaknya ketika seorang pencari suaka melancarkan aksinya dan menewaskan 12 orang serta melukai 56 orang di Berlin. Tidak hanya aksi terorisme, masalah radikalisasi dan rekrutmen terhadap pengungsi dan waega negara Jerman juga menjadi masalah berikutnya. Dimanfaatkannya kebijakan Jerman oleh kelompok-kelompok teroris untuk mengirimkan anggota mereka ke Eropa melalui jalur pengungsi ini mendorong Jerman untuk melakukan kontra-terorisme pasca penerimaan pengungsi di Jerman ini. Sehingga rumusan masalah dalam tulisan ini adalah “Bagaimana strategi kontra-terorisme Jerman pasca penerimaan pengungsi?” Dengan menggunakan konsep terorisme dan konsep kontra-terorisme Paul R. Pillar diketahui bahwa strategi kontra-terorisme Jerman pasca penerimaan pengungsi adalah melalui diplomasi, tindak pidana, intelijen, kontrol finansial, dan terakhir adalah penggunaan militer. Hal tersebut sesuai seperti konsep yang dipaparkan oleh Paul R. Pillar.
Copyrights © 2023