Penelitian ini dilakukan untuk memahami peran lembaga adat Panglima Laot Kuala Cangkoi dalam meningkatkan standar hidup nelayan. Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data quqlitative. Ada beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini, seperti wawancara dan partisipasi yang diamati untuk mencapai pemahaman yang menyeluruh tentang perspektif sosiokultur. Informan ditentukan, sesuai dengan sampling purposif, sedemikian rupa sehingga mereka berguling seolah-olah pengambilan sampel bola salju. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Peran kelembagaan adat Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi tidak mampu mendorong pengembangan masyarakat nelayan karena lembaga adat Provinsi Panglima Laot, sehingga peran lembaga adat kabupaten Panglima Laot dari daerah sebagai mitra kerja menggantikan Panglima Laot Provinsi, (2) Ketidakmampuan Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi sebagai lembaga adat untuk memotong rantai antara nelayan dan nakhoda (ureung pohareukat) dan ritel (toke bangku). Ketidakmampuan ini disebabkan oleh faktor pemicu dalam mencari mitra nelayan, terutama modal yang dikelola oleh sistem bagi hasil, dan (3) Kesulitan hidup masyarakat nelayan Aceh di Lhok Kuala Cangkoi disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan lingkungan, kebiasaan itu telah mempengaruhi gaya hidup nelayan, sehingga mereka tidak dapat mengatur waktu, usaha, energi, dan uang secara efektif. Diperlukan proses yang terkait antara lingkungan, teknologi, organisasi sosial, ideologi dan pembentukan karakter dan biofisikologis individu yang diperlukan untuk meningkatkan sumber daya manusia nelayan, termasuk pemberdayaan Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi sebagai lembaga adat sebagai satu-satunya penjaga nelayan Aceh. masyarakat di Lhok Kuala Cangkoi, Uleelheue
Copyrights © 2018