Artikel ini bertujuan untuk mengetahui retorika Presiden Joko Widodo pada teks pidatonya pada pelantikan presiden di periode keduanya dengan perspektif sosiolinguistik. Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif, bahwa sistematika penulisan ataupun metode penelitian kualitatif itu suatu prosedur penelitian terhadap pengamatan terhadap tuturan dan tulisan orang yang dijadikan objek penelitian serta perilakunya dapat diamati dan dideskripsikan, yang kemudian penelitian ini disebut dengan penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa kalimat ataupun kata-kata yang dituturkan oleh Presiden Joko Widodo semuanya mengandung politis, karena dari beberapa pokok pikiran Jean Stilwell Peccei dan Jason Jones, penulis menemukan dua pokok pikiran saja yang penulis temukan dalam kalimat maupun kata Presiden Joko Widodo yaitu pokok pikiran presupposition yang beranekaragam dan persuasif yang menggunakan pararelisme dan penggunaan kata ganti. Hal ini merupakan suatu yang umum disampaikan presiden kepada masyarakat apalagi hal ini dilakukan pada pelantikan periode keduanya. Hal ini memungkinkan suatu bentuk penutupan kinerja pada masa sebelumnya yang kurang optimal dengan cara menyelesaikan pada periode kedua. Selain itu juga memungkinkan suatu bentuk pengaruh politik lewat pidatonya untuk mempengaruhi audiens untuk keberlanjutan program yang dibangun pak Jokowi.
Copyrights © 2023