Pada proses pengolahan air bersih IPA Gunung Lingai menggunakan koagulan berupa tawas, sehingga menghasilkan residu sampingan berupa lumpur. Lumpur yang dihasilkan dari proses pengolahan air bersih tersebut belum dilakukan pengolahan dan pemanfaatan, sehingga diperlukan unit pengolahan lumpur agar tidak mencemari lingkungan. Dilakukan uji parameter lumpur yang keluar dari pipa pembuangan sedimentasi yang diambil secara grab sampling meliputi pH, suhu, kekeruhan, TS, TSS, BOD, COD, Fe, dan Al yang dihasilkan IPA Gunung Lingai. Kuantitas lumpur diketahui dari perhitungan berdasarkan data debit air baku, kekeruhan air baku, dan dosis koagulan yang digunakan IPA Gunung Lingai. Pada penelitian ini dilakukan pemilihan unit dewatering menggunakan analisis SWOT dan analisis decision matrix. Perhitungan dimensi setiap unit digunakan sebagai dasar pembuatan Detail Engineering Design (DED). Berdasarkan hasil uji laboratorium sampel lumpur IPA Gunung Lingai, jika dibandingkan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 5 Tahun 2014 nilai TSS pada IPA Gunung Lingai 2 melebihi baku mutu lingkungan yaitu sebesar 708 mg/L dan parameter lainnya masih sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Volume lumpur yang dihasilkan IPA Gunung Lingai sebesar 65,590 m3/hari. Alternatif yang terpilih meliputi bak pengumpul, gravity thickening, belt filter press, dan bak pengumpul dry cake. Rencana anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 1.589.000.000.Kata kunci: instalasi pengolahan air, perencanaan, pengolahan lumpurĀ
Copyrights © 2023