Merkuri merupakan logam berat paling beracun. Sumber logam ini berasal dari kegiatan industri seperti farmasi, kertas, plastik, pengawet pulp, industri pertanian, dan klorin serta industri produksi soda kaustik. Salah satu badan air yang menerima limbah industri yaitu Muara Angke. Muara Angke telah menjadi sumber utama pengairan, perikanan dan konsumsi untuk diminum bagi warga sekitar. Kondisi terkini kualitas air Muara Angke mengalami penurunan yang diakibatkan oleh pencemaran. Warga sekitar beresiko tinggi terpapar oleh merkuri akibat mengkonsumsi ikan hasil tangkapan dari Muara Angke yang tercemar. Akumulasi merkuri yang berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan gangguan pembentukan hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar merkuri dalam darah terhadap kadar hemoglobin pada komunitas ibu-ibu di Muara Angke. Penelitian menggunakan desain cross sectional, dengan metode observasional deskriptif analitik. Pengambilan sampel penelitian terhadap 25 responden dilakukan secara quota sampling. Kadar merkuri diukur dengan metode ICP-MS dan alat Agilent 7700 X. Kadar hemoglobin diukur dengan metode SLS Haemoglobin dan alat XN550. Hasil kadar timbal dalam darah dengan kadar terendah 3,2 µg/L, kadar rata-rata 6,35 µg/L dan kadar tertinggi 16,7 µg/ . Hasil kadar hemoglobin dengan kadar terendah 10,3 g/dl, kadar rata-rata 12,58 g/dl dan kadar tertinggi 14,4 g/dl. Hasil uji korelasi Spearman diperoleh p = 0,013, r = 0,489 yang berarti nilai p < 0,05 dapat disimpulkan dari hipotesa bahwa ada korelasi antara kadar merkuri dalam darah terhadap kadar hemoglobin pada komunitas ibu-ibu yang tinggal di Muara Angke.
Copyrights © 2024