Tulisan ini berfokus pada kontestasi antara kaum Santri dan Abangan, walaupun secara eksplisit kaum Santri dan Abangan tidak menunjukan persaingan, tapi kenyataanya mereka membentuk capital seimboliknya masing-masing. Setelah Kepres no 22 tahun 2015 tentang hari Santri, perdebatan Santri-Abangan mulai muncul kembali. Maka dari itu penulis ingin menelaah tentang bagaimana perkembangan Santri dan Abangan setelah Kepres tersebut dan bagaimana kaum Santri dan Abangan berkontestasi dalam wilayah politik dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan teori strukturasi, habitus dan modal dalam strategi kekuasaan milik Bourdieu sebagai pisau bedah. Berlandaskan pada penelitian kualitatif dengan basis data pengamatan lapangan dan wawancara serta dokumentasi. Penulis menemukan bahwa antara Santri dan Abangan saling berebut dominasi keagamaan ataupun kebudayaan yang berujung pada perebutan kekuasaaan, social dan ekomoni. selain itu perkembangan kaum Santri yang pesat juga menumbuhkan rasa egois dalam diri Santri. Hal tersebut didasarkan pada pengunaan Masjid sebagai salah satu sarana dalam membentuk habitus mereka. Berbeda dengan kaum Abangan yang bersifat komunal dan gotong royong, telah menjadikan Slametan sebagai alat daya tawar mereka atas dominasi kaum Santri. Kata kunci: kontestasi, capital, dominsai, Santri, Abangan, ego
Copyrights © 2023