Perubahan prosesi ritual adat dalam suatu tradisi masyarakat merupakan hal yang lazim terjadi seiring pergerakan sosiokultural masyarakat. Bagaimana tradisi dan budaya berubah di antara pergerakan manusia secara kolektif, periode sejarah, dan hubungan dilematis antara agama, budaya (adat), dan transisi lainnya. Tulisan ini memusatkan perhatian pada upacara adat ujung mantra masyarakat Lumajang. Apakah ujung mantra pada masyarakat Gucialit Lumajang yang menuju modern masih mempertahankan otentitasnya? Sebagai ruang kultural, berdasarkan data historisnya, Lumajang adalah wilayah diaspora sehingga sebagian besar masyarakatnya adalah Madura-Jawa dan masyarakat Gucialit, sebagian besar beragama Islam. Bahasan utama tulisan, adalah sejarah, praktik, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam upacara adat ujung mantra. Di balik praktik ritual tercipta ruang liminal dengan menghadirkan wacana patriotik. Tujuan upacara bergeser dari ritual pemanggil hujan menjadi mencipta kerukunan antarwarga. Patriotisme sebagai strategi pengalihan wacana dan alternatif untuk melebur persinggungan antara agama, budaya, dan modernitas di dalam ruang ketiga (ujung mantra).
Copyrights © 2023