Tahun 2017, Hestu Saputra sebagai sutradara mengadopsi novel Hujan Bulan Juni menjadi film dengan judul yang sama berdurasi 96 menit. Film tersebut bercerita tentang kisah cinta Pingkan dan Sarwono. Tokoh pendamping lainnya bernama Katsuo, dihadirkan sebagai pemuda asal Jepang yang menyukai Pingkan. Dalam film, terdapat budaya Jepang sebab kehadiran tokoh Katsuo dan latar tempat di Jepang yaitu Hokkaido. Berangkat dari hal tersebut, penulis tertarik untuk menganalisis dan merepresentasikan makna ojigi atau budaya membungkuk Jepang pada film Indonesia Hujan Bulan Juni. Teori yang digunakan untuk analisis adalah semiotika Roland Barthes tentang makna denotasi, konotasi, dan mitos. Sementara teori ojigi yang digunakan berdasarkan penelitian Piri dan Mulyadi tentang ojigi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan metode simak-catat dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan ada 9 adegan dengan 21 tanda ojigi yang dilakukan oleh Pingkan, Katsuo, dan beberapa tokoh figuran lain berupa ojigi 5̊, 15̊, 20̊, 30̊, dan 45̊. Makna denotasi-konotasi berupa salam sapa atau perpisahan, adat saat memasuki kuil, ungkapan terima kasih, kesan akrab, menghargai dan menghormati, persembahan terhadap dewa, sopan santun, penyambutan tamu, dan sikap rendah hati. Penemuan makna mitos secara tersirat yaitu berupa sikap ramah dan bersahabat, keakraban berdasarkan konsep uchi-soto Jepang yang menyebabkan interaksi secara informal, memberi tanpa pamrih, hubungan timbal balik antara agama dan budaya Jepang, menghargai dan menaati budaya tempat yang didiami atau dikunjungi, serta mau selalu belajar (prinsip Shokunin).
Copyrights © 2023