Fokus penelitian ini untuk menguraikan pesan-pesan yang terdapat dalam relief-relief Candi Sukuh yang dianggap masih tabu. Studi ini dilaksanakan karena Candi Sukuh dapat menjadi bukti bahwa jauh sebelum adanya gerakan feminisme, masyarakat yang menganut agama Hindu-Buddha pada masa lampau sudah mengakui perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut menjadi suatu konstruksi sosial yang dipahami dalam hubungan kompromi laki-laki dan perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi lapangan dan deskriptif-interpretatif, dan data dianalisis dengan pendekatan multidesain. Teori yang digunakan adalah Teori Ikonografi untuk menganalisis pesan dari relief-relief Candi Sukuh, sedangkan teori feminisme diterapkan dengan pendekatan gender, tubuh, dan seks. Hasil penelitian menunjukkan adanya pesan feminisme pada relief linggā dan yoni. Kesimpulannya pesan gender yang disajikan di relief linggā dan yoni pada Candi Sukuh berupa penolakan perempuan terhadap pengobjekan tubuhnya oleh kaum laki-laki, yang dianggap mempunyai otoritas terhadap tubuh perempuan.
Copyrights © 2023