Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ruang yang tersedia dengan kegiatan pengguna ruang pada rumah sakit Provinsi Sulawesi Tenggara, serta faktor-faktor apa yang menyebabkan timbulnya pola perilaku penunggu pasien dan hubungan antara ruang yang tersedia dengan kegiatan menunggu pasien. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, Pendekatan kualitatif lebih menekankan pada adanya pemahaman bukan pada pencarian kebenaran. Oleh karena itu metode yang digunakan adalah dengan melakukan wawancara mendalam dan pengamatan terlibat. Hasil penelitian ini adalah perilaku menunggui pasien dalam jumlah yang lebih dari satu orang di rumah sakit Provinsi Sulawesi Tenggara, sama dengan perilaku penunggu pasien yang terjadi di rumah-rumah sakit di Indonesia yang merupakan gejala yang sangat umum terjadi. Yang diperkirakan akan tetap berlangsung sampai waktu yang tidak bias diramalkan. Perilaku tersebut timbul dari adanya budaya yang melatar belakangi kehidupan bersama dalam kelompok. Sebagai makhluk social, manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup dalam kelompok. Kehidupan bersama dalam kelompok ini berbeda antara masyarakat sederhana yang hidup di pedesaan dengan masyarakat kompleks yang hidup di kota. Ditinjau dari sisi pasien maka keberadaan penunggu pasien masih merupakan hal yang sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang terhadap rasa takut dan tertekan akibat suasana asing rumah sakit dengan segala peralatan, obat-obatan dan tenaga paramedic yang harus dihadapinya. Kehadiran penunggu pasien dalam hal ini keluarga, kerabat dan teman, merupakan factor yang dapat dipercaya dapat memberikan ketenangan bagi si pasien yang pada gilirannya kemudian akan berdampak pada keluarga dan kerabat di pasien, yang secara langsung mengamati perkembangan kesehatan si pasien. Dengan dan komunikasi antara pasien dan keluarga yang akan memberikan dampak positif bagi pasien yang tetap terjaganya interaksi menungguinya. Kata Kunci: Prilaku, Pasien, Penunggu, Antropologi Ruang
Copyrights © 2011