Kepercayaan yang ada di Indonesia terbentuk dari adat-istiadat maupun budaya yang sudah ada sejak dahulu. Salah satu dari kepercayaan yang memiliki banyak pengikut, yakni Sapta Dharma. Ajaran Sapta Dharma berpegang teguh pada kesetiaan kepada Allah Hyang Maha Agung, serta menolong siapa saja bila perlu tanpa mengharapkan sesuatu. Konsep Tuhan dalam Sapta Dharma berbentuk sederhana dan abstrak. Namun pada kenyataannya, terdapat beberapa kelompok masyarakat penganut agama tertentu yang tidak menginginkan keberadaan Sapta Dharma, anggapan penganut aliran kebatinan Sapta Dharma adalah penganut aliran sesat sering muncul didalam persepsi masyarakat. Stereotip tersebut memberikan banyak dampak sosial yang dirasakan oleh warga penganut kepercayaan Sapta Dharma. Dengan mengguanakan teori interaksionalisme simbolik, penelitian ini menemukan bahwa stereotip yang diberikan kepada penghayat Sapta Dharma dan usaha mereka mengatasinya melalui konsep diri. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan studi kasus. Hasilnya, respon yang sama diberikan oleh beberapa penganut Sapta Dharma dalam menanggapi stereotip tersebut. Melalui konsep diri, penganut aliran kepercayaan Sapta Dharma memilih perilaku yang mereka tentukan untuk menanggapi stereotip yang melekat pada mereka.
Copyrights © 2020