Peristiwa pengepungan mahasiswa Papua oleh aparat pemerintah dan organisasi massa di Asrama Mahasiswa Papua, Jalan Kalasan, Surabaya pada 16 Agustus 2019, berujung penangkapan 42 mahasiswa oleh pihak Kepolisian. Banyak pro dan kontra di berbagai headline media online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana framing tirto.id dan suara.com dalam memberitakan konflik antara mahasiswa Papua dan masyarakat lokal di Surabaya serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Mengunakan pendekatan kualitatif dengan model analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Data penelitian ini diambil selama periode 17 Agustus – 10 September 2019. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Media online tirto.id memosisikan peranya dalam memperluas eskalasi konflik dengan menunjukan keritik terhadap pemerintah melalui dua pembingkaian diantaranya; aparat pemerintah refresif terhadap mahasiswa Papua, dan rasisme dalam konflik Papua Surabaya. (2) suara.com yang memosisikan peranya dalam mendamaikan eskalasi konflik menunjukan citra positif pemerintah melalui dua pembingkaian diantaranya: kesigapan aparat pemerintah menangani konflik, dan persekusi memicu konflik yang lebih besar. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pembingkaian. Secara internal seperti, ideologi, individu, organisasi media, dan rutinitas media. Sedangkan secara eksternal seperti, sumber berita, khalayak, sumber pendanaan, teknologi, dll.
Copyrights © 2021