Setiap hari teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini tentunya membuat manusia semakin mengidamankan temuan-temuan baru dari para ahli pengembang teknologi. Manusia ingin segala pekerjaan yang mereka hadapi semakin mudah dalam setiap penyelesaiannya. Barang-barang elektronik menjadi salah satu kemajuan teknologi yang paling berkembang, setiap jamnya para ahli berusaha untuk mengubah dan meng-up grade barang-barang elektronik menuju arah yang lebih sederhana namun memiliki kemampuan yang canggih. Semakin berkembangnya barang elektronik membuat manusia selalu ingin menukar barang elektronik yang sebelumnya sudah dimiliki dengan barang elektronik baru yang lebih canggih dan sederhana. Hal tersebut menyebabkan penumpukan sampah yang biasa disebut dengan Limbah Elektronik (Electronic Waste). Limbah tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan manusia dan manusia itu sendiri. Nyatanya limbah elektronik mengandung bahan-bahan berbahaya, yaitui: logam berat (seperti Timbal, Kadmium, Merkuri, Barium, Arsenik, Berilium, Chromium, Selenium), logam mulia (seperti Emas, Perak, Platinum), logam (seperti Tembaga, Aluminium), oksida tahan api (seperti SiO2, Al2O3) dan senyawa Halogenasi (Retardan Api Brominasi seperti Polimer Diphenyl Eter (PBDEs) dan Brom Brominated Biphenyls (PBBs), senyawa terklorinasi seperti Poly Vinyl Chloride (PVC) atau plastik yang mengandung Poli Klorida Biphenyl (PCB) dan Poly Chlorinated Diphenyl Ether (PCDEs). Zat atau kandungan tersebut langsung atau tidak langsung mampu merusak kesehatan manusia dan lingungan sekitar manusia. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yang disebabkan oleh limbah elektronik, misalnya penanam pohon hingga mengelola limbah elektronik dengan cara tertentu. Namun dibutuhkan dukungan dari pihak terkait untuk melancarkan kegiatan tersebut.
Copyrights © 2019