Menempatkan Islam, religiositas atau pemikiran ulama yang bersifat dialektis, berhadap-hadapan dengan sekularisme atau pola berfikir ilmuawan yang bersifat demonstrative, rasanya memang kurang tepat, bahkan terlalu simplistic. Menempatkan posisi berhadap-hadapan mengandalkan arti dan sikap tatanan hubungan pergaulan yang antagonistic, bagaikan air dan minyak yang sifat-sifat dasarnya memang sudah berbeda sejak semula.
Copyrights © 1989