Perbandingan pengukuran lingkar lengan atas dengan indeks massa tubuh dalam penentuan risiko kurang energi kronis pada siswi SMA Negeri 4 Kotabumi Lampung Utara. Pengukuran LILA adalah cara sederhana dan praktis untuk mengukur risiko KEK pada WUS. Apakah cut-off point 23,5 cm juga valid untuk digunakan pada WUS golongan remaja 14-19 tahun. Penelitian ini mempelajari nilai optimal LILA dengan IMT sebagai gold standar untuk mendeteksi risiko KEK pada remaja putri. Tujuan penelitian adalah diketahuinya ukuran LILA yang memiliki validitas paling optimal dibandingkan dengan IMT dalam mendeteksi risiko kekurangan energi kronis pada siswi SMA Negeri 4 Kotabumi. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional study, dengan besar sampel 469 orang. Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah umur, berat badan, tinggi badan, LILA, dan IMT remaja putri usia 15-18 tahun. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata umur, berat badan, tinggi badan, IMT, dan LILA adalah 16,6 ±0,9 taun, 46,1 ±7,6 kg, 151,8 ±4,98, 19,99 ±3,05 Kg/m2, 23,34 ±2,29 cm. Angka kejadian KEK (IMT/U) 36,2% sedangkan risiko KEK (LILA) 53,5%. Ada korelasi antara LILA dengan IMT (p0,000) dengan kekuatan hubungan yang sangat kuat; koefesien korelasi (r) yaitu sebesar 0,8835. Nilai optimal LILA berdasarkan IMT berada pada ukuran 22,7 cm, dengan nilai sensitivitas sebesar 87,65% dan spesifitas 80,94% serta nilai AUC 93,2%. Mengingat pengukuran LILA lebih praktis dari pada IMT maka pengukuran LILA dapat digunakan untuk deteksi dini KEK dengan memperhatikan nilai optimal untuk golongan remaja. Bagi penelitian lanjut perlu dilakukan kajian dengan ukuran sampel yang lebih besar.
Copyrights © 2013