Beberapa nyanyian jemaat berisi kata dan narasi yang tidak relevan dengan pengalaman orang tuli. Hal ini tampak dalam dua hal. Pertama, kata-kata yang digunakan banyak dipengaruhi secara sepihak oleh orang dengar, misalnya pada kata ‘mendengar’ dan ‘buka telinga’. Kedua, gambaran orang tuli dalam nyanyian jemaat masih dibingkai oleh dosa dan penyembuhan. Bingkai ini merupakan pengaruh dari paradigma normalisme yang memandang kondisi disabilitas sebagai kerusakan. Alih-alih membantu penghayatan umat, nyanyian jemaat yang demikian justru mereduksi kekayaan pengalaman iman setiap orang dan berpotensi meminggirkan orang tuli dari perayaan ibadah. Oleh sebab itu, artikel ini menawarkan perspektif yang berbeda. Melalui wawancara semi terstruktur, ditemukan bahwa orang tuli memiliki pandangan dan pengalaman iman yang berbeda dari bingkai normalisme dalam nyanyian jemaat. Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa narasi iman yang berangkat dari pengalaman orang tuli patut dipertimbangkan dalam menggubah nyanyian jemaat, agar dapat mengubah perspektif teologi yang kerap kali sarat normalisme terhadap orang tuli.
Copyrights © 2023