Peningkatan populasi penduduk Lansia di Indonesia, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), telah menciptakan dampak kompleks, termasuk dalam konteks teknologi digital. Lansia, sebagai kelompok yang rentan terhadap terpengaruh penyebaran misinformasi, khususnya selama Pemilu 2024. Dengan pertumbuhan akses lansia terhadap internet, kekurangan literasi digital dan pemahaman politik yang kurang dapat meningkatkan risiko penyebaran informasi palsu. Merespons fenomena tersebut, program literasi digital terfokus pada generasi muda, meninggalkan lansia terabaikan. Lansia, sebagai digital immigrant, sering menjadi korban penyalahgunaan perangkat digital dan kurangnya perlindungan terhadap privasi online. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pelaku penyebar hoaks berusia di atas 45 tahun, juga berarti bahwa Lansia di NTB memiliki tingkat literasi digital rendah, meningkatkan rentan mereka terhadap penyebaran misinformasi. This study is kualitatif dengan menggunakan metode study kasus pada peserta pelatihan Akademi Digital Lansia dan dianalisis melalui pendekatan Interaction-Adaptation Theory. Sedangkan dalam pelatihan Akademi Digital Lansia menggunakan metode KAP (Komunikasi Antar Personal). Penelitian ini bertujuan memberikan kontribusi pada pengembangan strategi melindungi lansia dari dampak negatif misinformasi selama Pemilu 2024 di NTB melalui program-program yang memberdayakan lansia melalui workshop literasi digital berbasis riset. Temuan dalam study ini adalah bahwa Program Akademi Digital Lansia sebagai strategi yang efektif dalam menyikapi misinformasi di kalangan Lansia yaitu telah memberikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan pengalaman berkomunikasi yang positif, menunjukkan efek kognitif, afektif, dan konatif.
Copyrights © 2024