IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)

BANDAKALA: TRANSFORMASI KARAKTER PEMBAYUN DALAM KOMPOSISI KARAWITAN

Dedi Ahmad Fahrudin (Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta)
Asep Saepudin (Unknown)
Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar (Unknown)



Article Info

Publish Date
25 Feb 2023

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mentransformasikan karakter Pembayun ke dalam karya komposisi karawitan yang berjudul Bandakala. Komposisi ini menggunakan konsep pathet dan teori “Rasa In Javanese Musical Aesthetics” Marc Benamou. Karya ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi naratif. Tahapan perwujudan karya dilakukan melalui pra garap, garap, dan pasca garap. Adapun struktur dramatik yang digunakan dalam karya komposisi ini antara lain, eksposisi, komplikasi, konflik, dan reversal. Penelitian ini berangkat dari ketertarikkan penulis terhadap sosok Pembayun dalam naskah kethoprak. Pembayun merupakan anak dari seorang Raja Mataram yaitu Panembahan Senopati. Pembayun dalam cerita kethoprak yang populer di kalangan masyarakat adalah penari ledhek yang terkenal dengan kecantikannya. Karakter Pembayun yang umum diperlihatkan adalah karakter yang licik karena ia menyamar sebagai penari ledhek untuk memikat hati Ki Ageng Mangir IV yang merupakan musuh dari Panembahan Senopati yaitu Raja Mataram. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan empat karakter dalam tokoh Pembayun, yaitu pemberani, lembut, labil, dan bijaksana. Karakter tersebut diperoleh melalui wawancara, bedah naskah, serta melihat pertunjukan kethoprak yang berkaitan dengan Pembayun. Hasil kesimpulan menujukkan bahwa karakter Pembayun dapat ditransformasikan melalui pendekatan konsep pathet dan struktur dramatik. Konsep pathet yang digunakan dalam komposisi ini antara lain pathet slendro sanga dan pathet pelog barang serta srtuktur dramatik yang bertujuan untuk memberikan alur dramatik agar keempat karakter tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh.Bandakala: Transformation of the Character of Pembayun in Karawitan CompositionThe aim of this research is to transform Pembayun's character into a karawitan composition entitled Bandakala. This composition uses the concept pathetic and the theory of “Rasa In Javanese Musical Aesthetics” by Marc Benamou. This work uses qualitative research methods with a narrative study approach. The stages of embodiment of the work are carried out through pre-work, work on and post-work. The dramatic structures used in this composition include exposition, complication, conflict, and reversal. This research departs from the author's interest in the figure of Pembayun in the manuscript ketoprak Pembayun is the son of a Mataram king, Panembahan Senopati. Pebayun in the story ketoprak popular among the people are dancersled who is famous for her beauty. The Pembayun character that is commonly shown is a cunning character because he disguises himself as a dancerledto captivate Ki Ageng Mangir IV who was an enemy of Panembahan Senopati, the King of Mataram. Therefore, the writer concludes that there are four characters in Pembayun, namely brave, gentle, unstable, and wise. These characters are obtained through interviews, reviewing scripts, and watching performancesketoprakrelating to the Pembayun. The conclusion results show that Pembayun's character can be transformed through a conceptual approach pathetic and dramatic structure. Concept pathet icused in this composition include: pathetic slim branch and pathetic pelog oodsas well as a dramatic structure that aims to provide a dramatic plot so that the four characters become one unified whole.

Copyrights © 2023






Journal Info

Abbrev

IDEA

Publisher

Subject

Arts Humanities Education Other

Description

IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ...