Tradisi Madihin yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan merupakan sebuah media penyampaian pesan dan nasihat namun dikemas dalam bentuk hiburan. Berbentuk pantun yang disusun sedemikian rupa dan dituturkan dengan alunan khas Madihin serta diiringi dengan tabuhan rebana. Namun, tujuan pelaksanaan Madihin kini semakin terdistorsi dengan banyaknya pihak yang tidak mengetahui tujuan pelaksanaan Madihin, mereka hanya menganggap Madihin sebagai hiburan. Penlitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi dalam Madihin dan untuk mengetahui keberadaan distorsi tersebut. Sebagai dasar dari penelitian ini digunakan teori etnografi komunikasi milik Muriel Saville Troike yang memuat ciri suatu tindak tutur dan berbagai hal yang menyertai tindak tutur tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode wawancara terhadap 2 orang pamadihinan dengan teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat distorsi tujuan tersebut yang dapat dilihat dari maraknya unggahan tentang Madihin di media sosial. Juga ditemukannya pola komunikasi Madihin yang kebanyakan ditentukan oleh setting dan participants. Pada penelitian ini juga ditemukan adanya distorsi dari tujuan semula madihin sebagai sebuah media nasehat, informasi, dan doa serta pujian menjadi hanya sebatas sebuah hiburan dengan memuat kalimat-kalimat yang tidak ada nasehat ataupun informasi bermanfaat di dalamnya, hanya murni sebatas kalimat-kalimat biasa yang dilantunkan dengan nada khas madihin dan diiringi dengan alunan tabuhan tarbang.
Copyrights © 2022