Indonesia, sebagai negara demokrasi, sudah sepatutnya memberikan ruang yang seluas luasnya kepada masyarakat untuk mengutarakan pendapat, kritik, dan preferensi mereka tentang berbagai hal termasuk dalam menilai kinerja pemerintah. Seiring dengan perubahan teknologi yang memberikan kebebasan dalam setiap orang untuk menyuarakan opininya, tantangan etika hadir sebagai suatu permasalahan kompleks. Essay ini menyoroti pertimbangan etis yang perlu diperhatikan dalam menyuarakan pendapat secara daring, termasuk penyebaran informasi palsu, pelecehan nama baik, dan polarisasi opini. Demokrasi digital membutuhkan keterlibatan yang bertanggung jawab, dan pemahaman Gen Z terhadap etika dapat membentuk dinamika demokrasi modern. Metode penelitian yang digunakan ialah studi kepustakaan dengan menganalisis dan memilih literatur mengenai paradigma kampanye politik para capres, dalam menggunakan media sosial serta pengaruh generasi Z. Studi kepustakaan dilakukan dengan mencari dan meninjau literatur ilmiah, laporan pemerintah, artikel jurnal, dan publikasi resmi lainnya yang terkait dengan media sosial dan dampaknya. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa pertimbangan etis perlu diperhitungkan ketika mengekspresikan pendapat secara online termasuk pencemaran nama baik, penyebaran informasi palsu dan polarisasi opini. Tingginya prevalensi penggunaan internet dan media sosial di Indonesia, menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang publik yang dominan bagi masyarakat Indonesia.
Copyrights © 2023