Penggunaan model allometrik ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya kualitas tempat tumbuh yang berbeda, faktor lingkungan yang berbeda, dan perbedaan waktu pemanenan di suatu daerah. Perbedaan waktu pemanenan akan mempengaruhi produksi daun dan ranting kayu putih. Penelitian ini bertujuan untuk menbuat model allometrik sebagai penduga daun dan ranting kayu putih di BKPH Subang. Pengumpulan data metode penelitian yaitu menginventarisasi dengan plot ukur persegi 20 m x 20 m. Data yang diinventarisasi berupa berat daun dan ranting kayu putih, tinggi bebas cabang, diameter pangkal (30 cm di atas permukaan tanah), dan diameter bebas cabang. Analisis data menggunakan regresi linear dan nonlinier untuk menyusun model allometrik. Selanjutnya melakukan uji kecocokan model menggunakan determinasi terkoreksi terkoreksi (R2–Adj), residual sum of square (RSS), dan kesederhanaan model.RSE dan AIC serta uji validasi model menggunakan NRMSE dan MAPE. Model allometrik terbaik berbentuk compound dengan persamaan yaitu Y= 1,189 1,109Db. Model allometrik compound dengan penduga diameter bebas cabang merupakan model dalam kategori layak digunakan. Memiliki nilai R2 – Adj sebesar 0,702 nilai residual sum of square 27,14, dan standar erornya 0,331. Nilai uji kecocokan model RSE yaitu 0,02 dan AIC yaitu -239,1. Sedangkan nilai uji validasi model NRMSE yaitu 32,12 dan MAPE yaitu 27,77. Model allometrik terbaik berbentuk compound dengan persamaan yaitu Y= 1,189 1,109Db. Model allometrik compound dengan penduga diameter bebas cabang merupakan model dalam kategori layak digunakan. Memiliki nilai R2 – Adj sebesar 0,702 nilai residual sum of square 27,14, dan standar erornya 0,331. Nilai uji kecocokan model RSE yaitu 0,02 dan AIC yaitu -239,1. Sedangkan nilai uji validasi model NRMSE yaitu 32,12 dan MAPE yaitu 27,77.
Copyrights © 2024