Madrasah diniyah grows and develops with the community. Its existence illustrates the level of community diversity. Along with the shift in the mindset of the community, the sustainability of the madrasah diniyah is threatened because it is seen as a "second class" education and it is only suitable for the lower middle class. This study describes the efforts of madrasah diniyah of Pamekasan in maintaining their institutional existence in the midst of the onslaught of modern education. Using a descriptive qualitative approach, this study reveals: the efforts of madrasah diniyah in revitalizing its institutions; exploring the response of stakeholders to these efforts; and challenges faced. The results of the study:The first: The form of revitalization efforts carried out by Madrasah diniyah is to maintain the Salaf curriculum and maximize community involvement in institutional policy making; The second, the response of stakeholders is good. students, community and teachers welcomed the revitalization movement. The third, the challenges faced are: the low interest and ability of row input in religious studies and the lack of financial support from the government. The solution made by madrasas is to strengthen the economy independently and strengthen the internal solidarity of the institution. (Madrasah diniyah tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Eksistensinya menggambarkan tingkat keberagamaan masyarakat. Seiring bergesernya pola pikir masyarakat, madrasah diniyah terancam keberlanjutannya karena dipandang sebagai pendidikan “kelas dua” dan hanya cocok bagi kelas menengah ke bawah. Penelitian ini menggambarkan upaya madrasah diniyah di Pamekasan dalam mempertahankan eksistensi kelembagaanya di tengah gempuran pendidikan modern. Dengan pendekatan kualitatif diskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumen, penelitian ini mengungkap: upaya madrasah diniyah dalam melakukan revitalisasi kelembagaannya; mendalami respon stakeholders terhadap upaya tersebut; dan tantangan yang dihadapi. Hasil penelitian: pertama: Bentuk upaya revitalisasi yang dilakukan madrasah diniyah adalah mempertahankan kurikulum salaf dan memaksimalkan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan kelembagaan; Kedua, respon stakehorders baik. murid, masyarakat dan para pengajar menyambut baik gerakan revitalisasi tersebut. Ketiga, tantangan yang dihadapi berupa: rendahnya minat dan kemampuan row input pada kajian keagamaan dan minimnya dukungan dana dari pemerintah. Solusi yang dilakukan madrasah dengan cara melakukan penguatan ekonomi secara mandiri dan menguatkan solidaritas internal lembaga.)
Copyrights © 2022