Pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Setiap anak pada dasarnya telah dibekali oleh Sang Maha Pencipta kemampuan alamiah untuk belajar dengan caranya sendiri. Begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada sekitar 20 kriteria anak yang tergolong ke dalam ABK, khususnya tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa telah mempunyai tempat belajar khusus di Sekolah Luar Biasa, sedangkan ABK yang lain, pemerintah telah menyediakanSekolah Inklusi, maupun sekolah mandiri atau yang biasa disebut dengan istilah Homeschooling. Prinsip mendasar dari pendidikan homeschooling yang mempunyai siswa ABK adalah semuaanak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Dengan demikian, setiap anak akan merasa disambut, dididik tanpa merasa dibeda-bedakan, baik itu dalam latar belakang jenis kelamin, fisik, intelektual, maupun karakteristik-karakteristik lainnya. Pendidikan homeschooling menyediakan kesempatan bagisemua anak untuk mengembangkan ketrampilan, kekuatan, kegigihan dan kepercayaan diri. Penyediaan sistem layanan pendidikan juga disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya. Homeschooling merupakan sekolah yang harus memiliki strategi pembelajaran yang lebih variatif. Khususnya untuk ABK, strategi pembelajaran tentunya diperlukan pengembangan agarlebih mudah diterima dan dipahami. Salah satu pengembangan model pembelajaran ini adalah dengan memanfaatkan media audio visual, terutama untuk mengatasi permasalahan yang banyak ditemui pada ABK yaitu kurangnya konsentrasi dalam belajar.
Copyrights © 2014