JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR
Vol 3, No 1: April 2014

PENGARUH PUPUK KANDANG KOTORAN AYAMTERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAYAM CABUT(Amaranthus sp) DI TANAH ALUVIAL

EKA PUR WATI (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Mar 2023

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut di tanah aluvial. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan acak lengkap, dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah c1 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 103 gram/polybag (untuk mencapai 8% bahan organik), c2 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 433 gram/polybag (untuk mencapai 10% bahan organik), c3 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 801 gram/polybag (untuk mencapai 12% bahan organik), c4 = penambahan kotoran ayam sebanyak 1.212 gram/polybag (untuk mencapai 14% bahan organik), c5 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16% bahan organik). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah daun (helai), berat segar (gram), volume akar (cm3), berat kering bagian atas tanaman (gram), berat kering akar (gram). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke dua , tetapi pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap variabel jumlah daun pada minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 103 gram/polybag (untuk mencapai 8 % bahan organik) juga memberikan hasil yang sama dengan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16 % bahan organik), sehingga tidak ada perlakuan yang terbaik. Kata kunci : Aluvial , Bayam cabut , pupuk kandang kotoran ayam PENDAHULUAN Bayam (Amaranthus sp) merupakan tumbuhan yang ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, namun sekarang tersebar ke seluruh dunia. Kandungan asam folat yang ada di bayam mampu melindungi otot jantung dari meningkatnya kadar glukosa yang mudah larut. Bayam juga mengandung vitamin B9 yang bermanfaat sebagai suplemen bagi wanita hamil untuk melindungi bayi dari cacat pada bagian syaraf, pencegah anemia karena bayam banyak mengandung zat besi, mengurangi pembentukan batu empedu, sebab bayam kaya magnesium. Bayam juga mempunyai kegunaan lain seperti bahan obat tradisional dan bahan kecantikan. Kirana dkk, (2011) menambahkan bahwa bayam merupakan salah satu sayuran terpenting di Asia dan Afrika. Bayam merupakan tanaman semusim yang berumur pendek dan dapat dibudidayakan dengan mudah diperkarangan rumah atau lahan pertanian. Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2010) bahwa luas areal penanaman bayam di Kalimantan barat pada tahun 2009 mencapai 1.382 Ha dengan hasil produksi 3.048 ton dan produktivitas 2,21 ton/ha sedangkan pada tahun 2010 luas areal penanaman 1.293 Ha dengan hasil produksi 2.468 ton dan produktivitas 1,92 ton/ha. Berdasarkan data tersebut terdapat penurunan dari luas penanaman, produksi, dan produktivitas. Usaha peningkatan produksi bayam, khususya di Kalimantan Barat ini dapat ditempuh melalui dua program utama yakni ekstensifikasi (perluasan areal) dan intensifikasi (peningkatan produktivitas). Ekstensifikasi yaitu program peluasan areal tanaman bayam selain memanfaatkan lahan kering juga lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan melalui pengaturan pola tanam. Usaha peningkatan produksi bayam melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usaha-usaha tersebut ternyata meningkatkan produktivitas bayam terutama dengan penerapan teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas). Menurut Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2007) tanah alluvial merupakan tanah yang luas penyebarannya sekitar 2.000.000 Ha atau sekitar 13,62% dari keseluruhan wilayah Kalimantan Barat. Penggunaan tanah alluvial untuk budidaya tanaman umumnya menghadapi beberapa kendala, diantaranya miskin unsur hara, reaksi tanah masam hingga basa, kandungan bahan organik yang rendah (Sarief, 1986). Reaksi tanah yang masam pada tanah aluvial dapat menyebabkan unsur hara terutama P dan Ca kurang tersedia sedangkan unsur hara Fe, Al dan Mn berada dalam jumlah berlebihan sehingga menjadi racun bagi tanaman. Keadaan tanah yang tidak menguntungkan ini menyebabkan tanaman bayam tidak dapat tumbuh dengan baik karena ketersediaan air, udara tanah dan unsur hara rendah sehingga pertumbuhan akar terhambat dan dapat menyebabkan terganggunya penyerapan air dan unsur hara, yang pada akhirnya produksi bayam menurun. Usaha untuk mengatasi permasalahan pada tanah aluvial adalah dengan penambahan bahan organik. Berdasarkan hasil analisis Laboratorium tanah aluvial yang digunakan memiliki kandungan C- organik 4,25 %. Sedangkan menurut Buckman dan Brady (1982) untuk menunjang pertumbuhan yang baik, tanaman memerlukan bahan organik yaitu sekitar 15 % - 20 % , sehingga perlu penambahan bahan organik. Penggunaan bahan organik ini, dimaksudkan untuk menjadi alternatif dalam peningkatan produktivitas tanah aluvial, yaitu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Salah satu jenis pupuk organik yang dapat digunakan adalah pupuk kandang kotoran ayam. Pupuk kandang ayam kaya akan nitrogen, magnesium, kalium, kalsium dan mengandung posfor yang tinggi. Pemilihan penggunaan pupuk kandang kotoran ayam pada tanah aluvial, dikarenakan pupuk ini mempunyai sifat ganda yaitu merupakan perekat yang baik bagi butir- butir tanah yaitu memungkinkan tanah menjadi tahan terhadap hanyutan air dan hembusan angin, di samping itu tanah akan menjadi remah, dimana struktur tanah akan ringan sehingga akar dapat hidup dengan baik dan banyak mengandung oksigen yang dapat memperbaiki dan meningkatkan aktifitas jasad renik tanah ( Anonim,2013). METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan dilingkungan kampus Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Waktu penelitian yaitu tanggal 25 Juli- 23 Agustus 2012. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Benih varietas unggul bayam loli tanah aluvial, polybag dengan berukuran 30 x 40 cm atau 6 kg,pupuk kandang kotoran ayam, pupuk dasar Urea dan SP-36. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : cangkul, gembor, parang, alat dokumentasi, penggaris, timbangan analitik, alat tulis dan alat lain yang mendukung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola rancangan acak lengkap, dengan satu faktor terdiri dari 5 taraf perlakuan. Tiap perlakuan diulang 5 kali,tiap percobaan terdiri dari 3 sampel tanaman, sehingga terdapat 75 sampel pengamatan. Perlakuan yang diberikan adalah berbagai taraf penambahan pupuk kandang kotoran ayam untuk mencapai berbagai taraf kandungan bahan organik , yaitu : c1 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 103 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 8 % ). c2 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 433 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 10 % ). c3 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 801 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 12 % ). c4 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.212 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 14 % ). c5 = penambahan pupuk kandang kotoran ayam sebanyak 1.678 gram /polybag (untuk mencapai kandungan bahan organik 16 % ). Data hasil penelitian dianalisis dengan metode uji F 5%. Jika hasil penelitian berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan Uji beda nyata jujur(BNJ) dengan taraf uji 5% (Gasperz,1991). HASIL DAN PEMBAHASAN 1.Hasil Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan jumlah daun minggu ke dua. Tetapi berpengaruh tidak nyata pada variabel jumlah daun minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.212 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi terhadap jumlah daun pada minggu ke dua, jumlah daun pada minggu ke tiga dan berat kering akar. Selanjutnya, pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi pada volume akar. Sedangkan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.212 gram/polybag memberikan hasil yang tertinggi terhadap berat kering akar. Hasil penelitian dari pengaruh pemberian pupuk kandang kotoran ayam terhadap semua variabel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Rerata Variabel Pertumbuhan dan Hasil Bayam Cabut pada berbagai Dosis Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Ayam Perlakuan Pupuk Kandang Kotoran Ayam (gram/polybag) JD2 JD3 BS VA BKBAT BKA 103 433 801 1.212 1.678 3,68ab 3,33b 3,84ab 4,14a 3,45ab 4,21 4,54 4,44 4,82 4,62 4,18 4,65 4,46 4,49 4,78 1,47 1,33 1,20 1,27 1,61 0,20 0,19 0,47 0,28 0,33 0,27 0,21 0,23 0,34 0,33 UJI BNJ 5 % 0,78 Keterangan : Angka yang memiliki huruf berbeda pada kolom yang sama diartikan berbeda nyata. JD2 : Jumlah daun pada minggu ke dua (gram) JD3 : Jumlah daun pada minggu ke tiga (gram) BS : Berat segar (gram) VA : Volume akar (cm3) BKBAT : Berat kering bagian atas tanaman (gram) BKA : Berat kering akar (gram) 2. Pembahasan Perhitungan jumlah daun dilakukan pada seluruh tanaman sampel dan dilakukan setiap minggu mulai saat seminggu setelah tanam sampai akhir penelitian. Daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna,diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu kedua dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke tiga. Faktor genetik merupakan faktor yang mempengaruhi berpengaruh atau tidak suatu variabel pengamatan dan faktor luar meliputi ketersediaan air, unsur hara, iklim dan tanah, serta perkembangan hama dan penyakit. Menurut Williams (1993), faktor genetik adalah suatu faktor yang menentukan batas pertumbuhan tiap sel organ dan seluruh bagian daun sehingga kadang-kadang pada waktu tertentu jumlah daun tidak akan bertambah. Pupuk kandang kotoran ayam yang digunakan berdasarkan hasil analisis mempunyai C/N rasio 6,59, namun C/N ratio yang dibutuhkan tanaman bayam adalah 12. Nilai ini masih rendah, hal ini diduga akan mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur hara seperti N,P,K,Ca,Mg menjadi rendah walaupun terdapat penambahan dari pupuk urea sebagai pupuk dasar pada saat tanaman berumur dua minggu, tetapi pemberiannya juga dalam jumlah yang sangat sedikit yaitu 0,6 gram/polybag. Unsur hara yang berada dalam bentuk tidak tersedia tidak dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman dalam metabolisme, sehingga tinggi rendahnya konsentrasi pupuk yang diberikan pada tanaman tidak akan mempengaruhi pertumbuhannya. Unsur Nitrogen berperan dalam sintesa protein, lemak dan berbagai perseyawaan organik. Menurut Gardner (1985), bahwa ketersediaan Nitrogen (N) yang tinggi menyebabkan pertambahan pucuk lebih dominan. Ditambahkan oleh Slamet (1991), bahwa kekurangan Nitrogen dan Posfor dapat mempengaruhi jumlah daun. Penambahan Nitrogen yang cukup pada tanaman akan mempercepat laju pembelahan dan pemanjangan sel. Nitrogen merupakan penyusun asam amino dan asam nukleat yang berperan dalam pembelahan sel tanaman. Adapun unsur K berperan dalam pembentukan dinding sel, mengatur tekanan osmotik sel serta berperan sebagai katalisator pada enzim yang terlibat pada proses fotosintesis. Jumlah daun merupakan salah satu indikator pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman dimulai dengan terjadinya pembelahan sel hingga bertambah besarnya protoplasma yang berakibat berkembangnya suatu jaringan, menyebabkan ukuran tanaman bertambah (Hardjadi, 1983). Menurut Sarief (1986), bahwa unsur hara merupakan faktor yang menentukan pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang optimal memerlukan unsur hara dalam konsenterasi yang optimal serta unsur hara yang seimbang dengan jumlah yang dibutuhkan tanaman. Jika unsur hara yang dibutuhkan masih dibawah konsentrasi yang diperlukan tanaman, maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Penambahan jumlah daun berhubungan dengan aktifitas sel-sel meristimatik di titik tumbuh, yang terjadi akibat pembelahan sel meristem apikal pada kuncup terminal dan kuncup lateral yang menghasilkan sel-sel baru dan akan menumbuhkan daun (Kimball, 1990). Pengamatan berat segar dilakukan pada saat panen, diketahui bahwa perlakuan pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat segar bayam. Berat segar merupakan hasil akumulasi fotosintat dalam bentuk biomasa tanaman dan kandungan air pada daun. Menurut Lahadassy dkk (2007) bahwa untuk mencapai berat basah yang optimal, tanaman masih membutuhkan banyak energi maupun unsur hara agar peningkatan jumlah maupun ukuran sel dapat mencapai optimal serta memungkinkan adanya peningkatan kandungan air tanaman yang optimal pula. Dijelaskan oleh Loveless (1987), bahwa sebagian besar berat segar tumbuhan disebabkan oleh kandungan air. Air berperan dalam turgiditas sel, sehingga sel-sel daun akan membesar. Menurut Jumin (2002) bahwa besarnya kebutuhan air setiap fase pertumbuhan berhubungan langsung dengan proses fisiologi dan faktor lingkungan. Ditambahkan juga oleh Gardner (1985) ketersediaan unsur hara merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan laju pertumbuhan tanaman. Faktor lain yang dapat mempengaruhinya adalah penggunaan paranet yang seharusnya tidak digunakan, penelitian dilaksanakan pada musim kemarau, sehingga penggunaan paranet ditujukkan untuk mengurangi banyaknya tanaman yang layu dan mati terkena sinar matahari langsung. Namun, setelah tanaman berumur dua minggu setelah tanam, paranet tersebut dibuka dikarenakan tanaman mengalami etiolasi, dimana tanaman mencari arah datangnya matahari. Etiolasi ini merupakan salah satu pemicu yang menyebabkan berat segar bayam berpengaruh tidak nyata. Berdasarkan hasil analisis keragaman dan rerata volume akar diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap volume akar. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut belum mampu memperbaiki media tumbuhan tanaman. Media yang kurang baik tersebut menyebabkan akar tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya termasuk dalam mengabsopsi unsur hara yang berperan dalam pertumbuhan tanaman. Air diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur hara yang terlarut di dalamnya, kemudian diangkut kebagian atas tanaman terutama daun, melalui pembuluh xylem (Lakitan,2001). Kemudian, diduga pula ketersediaan unsur hara P dalam pupuk kandang kotoran ayam kurang optimal dalam mendorong pertumbuhan akar-akar muda. Unsur fosfor (P) berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Selanjutnya menurut Djuarnani dan Setiawan (2005) penambahan pupuk kandang kotoran ayam pada tanah akan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah dan akan memudahkan air berdifusi yang dimanfaatkan akar untuk penyerapan air dan unsur hara dalam jumlah yang banyak untuk keperluan fotosintesis. Semakin panjang akar, maka akan memperpendek jarak unsur-unsur hara dengan akar tanaman,maka memudahkan penyerapan hara yang dilakukan baik secara aktif maupun secara pasif sehingga membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Akar-akar tanaman yang paling aktif adalah dekat ujung akar yang baru berbentuk rambut akar, dimana kegiatan respirasi (pernapasan) adalah yang terbesar . Sel-sel yang menyusun akar tanaman dibagian luar terdiri dari dinding sel yang tidak aktif yang bersinanggungan langsung dengan tanah, sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang aktif dikelilingi oleh suatu membran. Berat kering dilakukan pada akhir penelitian, berdasarkan hasil analisis ragam dan rerata berat kering bagian atas tanaman pada berat kering bagian atas dan hasil analisis ragam dan rerata berat kering akar diketahui bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. Berat kering mencerminkan akumulasi senyawa organik yang berhasil disintesis tanaman dari senyawa anorganik terutama air dan karbondioksida. Unsur hara yang telah diserap oleh akar baik yang digunakan dalam sintesis senyawa organik maupun yang tetap dalam bentuk ionik dalam jaringan tanaman akan memberikan kontribusi terhadap pertambahan berat kering tanaman. Berat kering tanaman berhubungan dengan peningkatan penyerapan berbagai unsur hara yang menunjang proses fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut akan digunakan tanaman untuk membentuk struktur tubuh, cadangan makanan, senyawa sel aktif dan sebagai energi metabolisme (Gardner, 1991). Perbedaan jumlah unsur hara yang diterima tanaman semestinya akan menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula, mengingat fungsi penting unsur-unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg pada tanaman. Namun, dalam penelitian ini pemberian pupuk kandang kotoran ayam yaitu 103 gram/polybag, 433 gram/polybag, 801 gram/polybag, 1.212 gram/polybag, dan 1.678 gram/polybag yang diberikan dalam waktu yang sama tidak menghasilkan perbedaan pertumbuhan pada bayam, sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur hara yang diterima relatif sama akibat unsur hara pada pupuk masih dalam bentuk tidak tersedia. Tersedianya unsur hara di dalam tanah akan mendukung pertumbuhan tanaman yang berada di atasnya sehingga dapat menyebabkan berat kering meningkat. Menurut Lingga dan Marsono (2003) unsur hara nitrogen sangat berperan penting untuk merangsang pertumbuhan hijau daun, lemak dan senyawa lainnya. Unsur hara dalam pupuk kandang kotoran ayam diberikan pada tanaman dan masuk ke dalam tanah serta dapat dengan mudah terikat dan tereduksi dengan zat hara lainnya, hal ini yang menyebabkan pupuk kandang tidak dapat diserap dengan maksimal oleh akar, penyebab lainnya yaitu proses pencucian unsur hara karena air hujan yang dapat menyebabkan terhambatnya pembentukan batang dan daun, hat tersebut yang menyebabkan pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering bagian atas dan berat kering akar dalam penelitian ini. C.Variabel Pengamatan Lingkungan 1. Suhu Hasil pengamatan terhadap suhu udara harian selama penelitian yaitu antara 26oC 29oC. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 20o (Anonim,2013). Dengan demikian, suhu udara selama penelitian sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam masa pertumbuhan. Suhu udara secara langsung mempengaruhi proses fotosintesis dan respirasi, jika suhu udara rendah maka pertumbuhan tanaman akan lambat dan bahkan terhenti karena, sedangkan pada suhu udara yang tinggi akan berakibat pada terganggunya proses fisiologi tanaman. 2. Kelembaban Udara Hasil pengamatan terhadap kelembaban udara harian selama penelitian yaitu 59,00 % 73,00 %, kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 60% . Pengaruh yang utama dari kelembaban udara terhadap tanaman yaitu laju transpirasi, dimana transpirasi akan menurun jika kelembaban udara tinggi dan sebaliknya laju transpirasi akan meningkat jika kelembaban udara rendah. D. Rangkuman penelitian Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil bayam cabut menunjukkan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke dua dan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada minggu ke tiga. Perlakuan dengan pemberian 1.212 gram/polybag pemberian pupuk kandang kotoran ayam berpengaruh nyata jika dibandingkan dengan pemberian pupuk kandang ayam 433 gram/polybag, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap perlakuan dengan dosis 103 gram/polybag, 801 gram/polybag dan 1.678 gram/polybag pupuk kandang kotoran ayam, rerata jumlah daun pada minggu ke tiga tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.212 gram/polybag yaitu 4,82 helai, dan terendah pada perlakuan 103 gram/polybag yaitu 4,21 helai. Pada variabel berat segar, rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.678 gram/polybag yaitu 4,78 gram dan terendah pada perlakuan 103 gram/polybag yaitu 4,18 gram, rerata volume akar tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.678 gram/polybag yaitu 1,61 cm3, dan terendah pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 1,20 cm3. Sedangkan, variabel berat kering bagian atas tanaman, rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 0,47 gram, dan terendah pada perlakuan 433 gram/polybag yaitu 0,19 gram. Selanjutnya, pada variabel berat kering akar rerata tertinggi dihasilkan pada perlakuan 1.212 gram/polybag yaitu 0,34 gram dan terendah pada perlakuan 801 gram/polybag yaitu 0,21 gram. PENUTUP A. Kesimpulan Pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 103 gram/polybag (untuk mencapai 8 % bahan organik) memberikan hasil yang sama dengan pemberian pupuk kandang kotoran ayam dengan dosis 1.678 gram/polybag (untuk mencapai 16 % bahan organik), sehingga tidak ada perlakuan yang terbaik. Pemberian pupuk kandang kotoran ayam menunjukkan pengaruh nyata pada jumlah daun pada minggu ke dua, tetapi tidak pengaruh nyata pada jumlah daun pada minggu ke tiga, berat segar, volume akar, berat kering bagian atas tanaman dan berat kering akar. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti dapat memberikan saran untuk mengetahui dosis yang tepat maka perlu dilakukan penelitian di daerah-daerah yang memiliki keadaan dan jenis tanah yang berbeda, sehingga dalam budidaya bayam cabut dapat diperoleh hasil yang optimal. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2013. Budidaya Bayam. www.caramenanam.com/2013/06/teknik-menanam-bayam. Diakses/diunduh tanggal 6 Februari 2014. 23:34 Anonim.2013.Anjuran Fungsi Pupuk Kandang Kotoran Ayam. www. labuhanbatu-utar4.blogspot.com//.../pupuk-kandang.6 Februari 2014 Badan Pusat Statistik. 2007. Statistik Pertanian Pangan. Kantor Statistik Kalimantan Barat. Pontianak. Badan Pusat Statistik. 2010. Kalimantan Barat Dalam Angka. Kantor Statistik Kalimantan Barat. Pontianak. Buckman, H.O dan N.C.Brady,1982.IlmuTanah.Terjemahan Sugiman Bharata Karya Aksara.Jakarta. Gardner, Pearce, dan Mitchell. 1985. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit UI. Jakarta. Gardner. dan Franklin, P. 1991. Fisiologis dan Budidaya. Terjemahan Susilo. Universitas Indonesia. Jakarta. Hardjadi.S.S. 1983. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. Jumin, H.B. 2002. Agroekologi, Suatu Pendekatan Fisiologis. Raja Grafinso Persada. Jakarta. Kimball, J.W. 1990. Biologi Terjemahan Siti Sutarni T dan Sugimin. Erlangga. Lahadassy.J. 2007. Pengaruh Dosis Pupuk Organik Padat Daun Gamal Terhadap Tanaman Sawi. Jurnal Agrisistem. Vol. 5 Hal. 126. Lakitan, B. 2001.Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja grafindo persada. Jakarta. Lingga, P.dan Marsono. 2007.Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Loveless. A.R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Gramedia. JakartaJakarta. Slamet, S. 1991. Bercocok Tanam Secara Hidroponik. Gramedia. Jakarta. William, CN., J.O Uzo dan W.T.H. Peregrine, 1993, Produksi Tanaman Daerah Tropika, Terjemahan Soedharoedjian R, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. .

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

jspp

Publisher

Subject

Agriculture, Biological Sciences & Forestry Biochemistry, Genetics & Molecular Biology Earth & Planetary Sciences Economics, Econometrics & Finance Environmental Science

Description

Jurnal Sains Pertanian Equator is open access, academic, citation indexed, and blind peer-reviewed journal. It covers original research articles, review, and short communication on diverse topics related to agriculture science. We accept submission from all over the world. All submitted articles ...