Tulisan ini merangkum ide-ide baru yang mencoba untuk memahami pengembalian istilah yang terkait dengan perempuan dalam Al Qurâan dengan memeriksa sebuah karya Qurâan terjemahan berjudul âAl-Qurâan:Sebuah terjemahan Reformerâ. Karya ini menawarkan metodologi baru dalam membaca Al-Qurâan, melaluiâQurâan sajaâ, membiarkan Qurâan berbicara tentang dirinya sendiri melalui proses redefinisi kata-kata dan koherensi logis. Salah satu bentuk terjemahan yangtampak berbeda dari yang lain, misalnya di QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamu>na âala an-Nisaâ diterjemahkan dengan laki-laki âuntuk mendukungâ para wanita.Dalam ayat yang sama, ia juga diterjemahkan sebagai salihat dengan âperempuan yang direformasiâ. Dalam terjemahan progresif membutuhkan sentuhan aspekhistoris sehingga terjemahan ini tidak lepas dari maknaasli. Jika mereka mengabaikan data historis, penafsiranpara ulama, Ulumul Quran, hadits nabi, dan sebagainya untuk menggunakan tekstualitas Al-Qurâan sebagai penafsir Al-Qurâan, bukan tidak mungkin bahwa merekaakan memiliki kesalahpahaman.kata kunci: Keadilan, Reformis, Quran, Wanita. This paper reviews new ideas that try to make sense of returning the terms related to women in the Qurâan by examining a work of Qurâan translation entitled â Qurâan: A translation Reformerâ. This work offersa new methodology in reading the Qurâan, through âQurâan aloneâ, it is let the Qurâan speaks about itself through a process of redefinition of words and logical coherence. One form of translation seems different fromthe others, for example in the QS. An-Nisa (4): 34, ar-rija>lu qawwamuna âala an-Nisaâ translated by men are âto supportâ the women. In the same paragraph, he alsotranslated as-salihat with âthe reformed womenâ. This progressive translation in the researcherâs point of view needs a touch of historical aspects so that translation is not separated from the original meaning of which is understood by the first audience. If they ignore the historical data, the interpretation of the scholars, Ulumul Quran, hadith of the prophet, and more likely to use thetextuality of the Quran as the interpreter of the Qurâan, it is not impossible that they will have misconceptions.Keywords: Justice, Reformers, Quran, Women.
Copyrights © 2013