Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Sungai Putih (BPSP) jl. sei putih Rispa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: F0 =Kontrol, F1=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 1, F2= Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 2, F3=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 3, F4=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 4, F5 =Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 5, F6=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 6, F7=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 7, F8=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 8, F9=Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 9, F10 =Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) APS 10, F11 =Penggunaan cendawan Dark Septate Endopyte (DSE) TM RP 2a. Parameter yang diamati adalah karakterisasi yang terisolasi, patogenitas cendawan DSE menggunakan benih sawi putih, persentase daya efikasi cendawan DSE, dan pengamatan hifa abnormal. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh isolat cendawan DSE tanaman karet sebanyak 18 isolat dengan karakteristik adanya pigmen gelap pada media agar, memiliki hifa genap bersepta memiliki konidia atau hifa steril dan membentuk mikrosklerotia didaerah jaringan akar. Isolat cendawan DSE yang memiliki persentase perkecambahan benih sawi putih sebesar 100% dan tumbuh normal ada sebanyak 9 isolat antara lain APS 1, APS 2, APS 3, APS 4, TMRP 2a, APS 5, APS 6, APS 7, dan APS 8. Diperoleh 11 isolat cendawan DSE yang bersifat tidak patogenik yaitu : APS 1, APS 2, APS 3, APS 4, TM RP 2a, APS 5, APS 6, APS 7, APS 8, APS 9,APS 10 dan 7 isolat cendawan DSE yang bersifat patogenik, yaitu : APS 11, APS 12, APS 13, APS 14, APS 15, APS 16, APDS 3.2. Persentase penghambatan pertumbuhan JAP tertinggi terdapat pada isolat APS 1 yaitu sebesar 5,88%.
Copyrights © 2023