Penelitian ini adalah penelitian dalam rangka memotret penerimaan seseorang ataupun yang lebih besar dari itu terkait dengan al-Qur’an sebagai kitab suci. Penerimaan tersebut adalah hasil dari persepsi yang dibangun terhadap al-Qur’an, persepsi yang dimaksud adalah bagaimana memposisikan al-Qur’an di kehidupan seseorang. Dari persepsi itulah lahir sebuah tindakan yang menjadi pola interaksinya dengan al-Qur’an. Tindakan tersebut menjadi bagian dari kehidupan seseorang yang kemudian dinamakan dengan living al-Qur’an. Dengan melihat pemaknaan al-Qur’an dari perspektif antropologi maka pemaknaan yang dilakukan oleh Ustadz Rully dengan institusi keagamaannya adalah bahwa al-Qur’an dimaknai sebagai kitab dalam hal ini lebih spesifik lagi adalah kitab yang dimaknai berupa bacaan mulia, hal itu tergambar dari apa yang dilakukan oleh Ustadz Rully dan aktivitas yang tersedia di PAI, yaitu berupa belajar membaca al-Qur’an melalui program tahsin yang dia kurikulumkan melalui attaqi, miftah dan fasih. Selain bacaan yang diperbagus, al-Qur’an juga dihafalkan (tahfidz) hal itu dilihat dari program mulai dari pulau tahfidz, masjid tahfidz, resort tahfidz. Dari penelitian ini didapatkan bahwa pembacaan terhadap al-Qur’an bisa melahirkan seseorang menjadi agensi dari al-Qur’an itu sendiri baik dirinya maupun dengan mendirikan Institusi keagamaan dalam rangka mendalami dan menyebarkan al-Qur’an tersebut ke khalayak masyarakat.
Copyrights © 2024