Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui seberapa baik kemampuan berpikir kritis siswa pada materi limas dan prisma ditingkatkan dengan metodologi pembelajaran teka-teki silang. Untuk meningkatkan semangat belajar siswa, teka-teki silang merupakan salah satu alat pembelajaran aktif yang memerlukan pemikiran semua siswa dalam memecahkan masalah. Menghafal lebih ditekankan oleh para guru saat ini sebagai keterampilan kognitif. Masih ditemukan bahwa siswa kurang memiliki kemampuan berpikir kritis karena hafalan masih mengatur sistem pendidikan dan mempengaruhi hasil belajar. Pendekatan seperti ini tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Apabila kegiatan ilmiah tidak dimasukkan ke dalam proses pembelajaran melalui kegiatan eksperimen, maka kemampuan akademik siswa tidak akan berkembang dan kemampuan berpikir kritisnya tidak akan berkembang. Model pembelajaran teka-teki silang dimaksudkan sebagai alat yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritisnya, menurut peneliti. Desain kelompok sebelum dan sesudah tes dimasukkan dalam desain uji coba. Pre-test dimaksudkan untuk mengetahui status awal subjek sebelum diberikan terapi, dan post-test dilakukan setelah diberikan treatment. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan paradigma pembelajaran teka-teki silang dengan materi limas dan prisma meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dari 0% menjadi 47% pada tingkat relasional dan dari 0% menjadi 33% pada tingkat abstrak, menurut data posttest. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengintegrasian materi limas dan prisma dalam paradigma pembelajaran teka-teki silang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya.
Copyrights © 2024