Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik maskulinitas toksik yang berasal dari karakteristik maskulinitas yang disalahartikan pada sosok Ken. Toksik maskulinitas adalah karakteristik gagah yang pada dasarnya, namun hal ini menjadi toxic atau salah arah ketika pria dituntut harus memiliki dan menunjukkan maskulinitas secara berlebihan hingga merugikan orang di sekitarnya. Hal ini tercermin dalam film ini melalui tokoh Ken yang selalu mengedepankan konsep patriarki. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode analisis semiotika John Fiske, yang terdiri dari tiga tingkatan pengkodean: tingkat realitas (lingkungan dan perilaku), tingkat representasi (setting dan angle kamera), dan tingkat ideologi (realitas dan representasi sebagai kode ideologi). Hasil analisis mencakup tanda-tanda verbal dan nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan percakapan tokoh Ken. Karakter Ken juga sering menunjukkan memiliki kekuasaan dan status sosial yang tinggi agar bisa dihormati oleh orang lain, berperilaku kasar dan agresif, serta mendominasi orang lain, serta berusaha tampil macho untuk menyembunyikan ketidaksempurnaannya, yang merupakan contoh negatif dari dominasi maskulinitas yang dipaksakan, disalahpahami, dan disalahgunakan. Selain itu, film ini mencerminkan ideologi individualisme yang kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Copyrights © 2023