Palm oil are designed commodities to meet industrial needs where all parts of plant morphology beneficial to human life have economic value, produce derivative industrial raw materials and become commodities that function as economic stability. Oil palm plants can grow and develop on various land typologies and can be cultivated by the community as independent smallholders. One of them is in Indragiri Hilir Regency which is dominated by wetland. The purpose of this study was to determine the amount of cost of goods produced needed to produce each kilogram of FFB by independent smallholder oil palm plantation farmers in Indragiri Hilir District based on land typology and based on cultivation patterns. The method used in determining the cost of goods produced in oil palm plantation farming uses the full costing method. Full Costing calculation by summing all cost components including unexpected costs. The results showed that based on land typology, the average cost of goods produced (HPP) of fresh fruit bunches (FFB) for oil palm was Rp.1,648.40/k, HPP on dry land was Rp.1,507.26/kg and HPP on wetlands was Rp.1,789.54/kg. Based on cultivation patterns, farmers who have implemented Good Agricultural Practices (GAP) have an average HPP of Rp. 1,831.91/kg FFB and farmers who have not implemented an average HPP GAP of Rp. 1,464.89/kg. Komoditas kelapa sawit dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri dimana seluruh bagian dari morfologi tanaman bermanfaat bagi kehidupan manusia memiliki nilai ekonomis, menghasilkan bahan baku industri turunan dan menjadi komoditi yang berfungsi sebagai stabilitas ekonomi. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dan berkembang pada berbagai tipologi lahan dan dapat diusahakan oleh masyarakat sebagai petani swadaya. Salah satunya di Kabupaten Indragiri Hilir dengan tipologi lahan didominasi lahan basah. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui besarnya harga pokok produksi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap kilogram TBS oleh petani perkebunan kelapa sawit rakyat swadaya di Kabupaten Indargiri Hilir berdasarkan tipologi lahan dan berdasarkan pola budidaya. Penelitian dilakukan dari bulan Agusutus sampai dengan Desember 2023, data penelitian berupa data primer yang bersumber dari petani kelapa sawit rakyat sebagai responden sebanyak 102 orang. Pemilihan responden menggunakan stratified sampling dan incidental sampling, metode analisis data analisis spasial dan full costing. Perhitungan Full Costing digunakan dalam penentuan harga pokok produksi pada usahatani perkebunan kelapa sawit dengan menjumlahkan seluruh komponen biaya termasuk biaya tidak terduga. Hasil penel digunakan dalam penentuan harga pokok produksi pada usahatani perkebunan kelapa sawit itian menunjukan bahwa berdasarkan tipologi lahan, rerata harga pokok produksi (HPP) tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sebesar Rp.1,648.40/k, HPP pada lahan kering sebesar Rp.1,507.26/kg dan HPP pada lahan basah sebesar Rp.1,789.54/kg. Berdasarkan pola budidaya, petani yang telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) rerata HPP sebesar Rp.1,831.91/kg TBS dan petani yang belum menerapkan GAP rerata HPP sebesar Rp. 1,464.89/kg.
Copyrights © 2024