Naditira Widya
Vol. 10 No. 2 (2016): Naditira Widya Volume 10 Nomor 2 Oktober Tahun 2016

TEKNOLOGI, BENTUK, FUNGSI, DAN MOTIF HIAS TEMBIKAR DI ISTANA ALMUKARRAMMAH, SINTANG

Ulce Oktrivia (Unknown)



Article Info

Publish Date
06 Aug 2024

Abstract

Tembikar dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kepandaian teknologis dan aktivitas masyarakat pada masa lalu. Guna mengetahui hal tersebut, maka perlu diketahui tingkat teknologi tembikar, bentuk, dan motif hias, serta kaitan antara fungsi tembikar dan fungsi situs pada masa lalu. Ragam tembikar ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui aktifitas yang pernah terjadi di lokasi ini. Permasalahan tersebut dijawab dengan menggunakan teknik pengamatan berdasarkan variabel jejak buat, warna bagian permukaan dan inti tembikar, motif hias dan teknik hias. Selain itu, juga dilakukan penggambaran dengan teknik mirror untuk bagian tepian tembikar. Gambaran ini dapat dijadikan sebagai tambahan informasi perkembangan sejarah kebudayaan di Sintang dan sekitarnya. Tembikar Istana Almukarramah yang terdiri dari periuk, mangkuk, kendi, dan tembikar berbentuk persegi, dibentuk dengan tangan, alat, dan gabungan kedua teknik tersebut. Tidak semua bahan tanah liat dipilih dengan baik. Rata-rata tembikar dibakar pada suhu yang rendah sampai sedang, meskipun terdapat beberapa yang dibakar pada suhu tinggi. Motif hias dan teknik yang digunakan sangat bervariasi. Pada umumnya motif hias yang ditemukan berupa garis horisontal dan vertikal, namun terdapat juga motif hias berupa bulan sabit, duri ikan, dan bentuk persegi. Tembikar Istana Almukarramah digunakan sebagai peralatan sehari-hari dan alat upacara. Asumsi ini didasarkan pada fungsi lokasi Istana Almukarrammah sebelum tahun 1932. Pada masa tersebut lokasi ini dimanfaatkan sebagai pemukiman yang lingkungannya berupa semak belukar dan ditumbuhi pohon sagu. Beliung persegi tampaknya digunakan sebagai alat untuk eksploitasi sagu, sedangkan tembikar digunakan sebagai peralatan sehari-hari mereka. Fungsi tembikar sebagai alat upacara didasarkan pada banyaknya temuan tembikar di sekitar Batu Kundur. Pottery can be used to determine the level of technological skill and community activities in the past. Therefore, it is necessary to determine the level of technology of pottery, shapes and motifs, and the link between pottery function and site functionality in the past. Variety of pottery is expected to be used to determine the activities that have occurred at the site. This image can be used as additional information on the cultural history of Sintang and its surroundings. The potteriesare consisting of pots, bowls, jugs, and a square-shaped. It were molded by hand, tools, and combined of these two techniques. The clay material is not all well chosen. Average pottery burned at low to moderate temperatures, although some of them were burned at high temperatures. The pottery decorations and techniques are widely varied. In general, motifs are found in the form of horizontal and vertical lines, but there is also a motif in the form of a crescent moon, fishspines, and a square shape. Pottery was used as everyday equipment and tool ceremony. This assumption is based onthe function of palace location before 1932. At that time, the area was shrub land as habitat of sago palms. Hand axe seems to be used as a tool for exploitation of sago, while pottery used as their everyday equipment. The pottery function supposed to be a ceremonial tool is based on its location around Batu Kundur.

Copyrights © 2016






Journal Info

Abbrev

nw

Publisher

Subject

Arts Humanities Social Sciences

Description

Naditira Widya aims to be a peer-reviewed platform and a reliable source of information. Scientific papers published consist of research, reviews, studies, and conceptual or theoretical thinking with regard to Indonesian and/or world archaeology and culture. All papers are double-blind reviewed by ...