Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang matang, menjadikan tahap perencanaan sebagai langkah penting sebelum pelaksanaan proses pendidikan yang sebenarnya. Penelitian tindakan sekolah ini dimulai karena adanya kekurangan yang diamati pada kemampuan iguru idalam imembuat irencana ipembelajaran iyang iselaras idengan ikurikulum i2013, iserta ipelaksanaan irencana itersebut iselama ipembelajaran. iSetelah imenganalisis idan imendiskusikan idata ipenelitian, iterlihat iadanya ipeningkatan iyang isignifikan. iPersentase iguru iyang imencapai inilai iminimal ipada ipenilaian iRencana iPembelajaran i(RPP) ipada iSiklus i1 idan iSiklus i2 imeningkat isebanyak i70%, inaik idari i15% imenjadi i85%. iSelain iitu, ijumlah iguru iyang imemperoleh inilai iminimal imemuaskan idalam ipenilaian ikinerja mengajar pada kedua siklus meningkat sebesar 82%, meningkat dari 11% menjadi 93%. Selain itu, terdapat peningkatan signifikan sebesar 41% dalam jumlah guru yang memenuhi nilai minimum penilaian siswa pada kedua siklus, meningkat dari 48% menjadi 89%. Dalam hal keterlibatan siswa, aktivitas yang tidak sesuai pada kedua siklus mengalami penyusutan rata-rata sebanyak 13%, sedangkan kegiatan yang sesuai dengan tujuan Siklus iI idan iSiklus iII imengalami ipeningkatan irata-rata isebesar i24%. iBerdasarkan ianalisis idan ipembahasan idata, ipenelitian iini idengan itegas imenyimpulkan ibahwa penerapan metode pemodelan berpotensi meningkatkan kemahiran guru dalam menyusun rencana pembelajaran dan menerapkannya secara efektif dalam praktik pengajaran mereka.
Copyrights © 2023