Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan keterhubungan antara bentuk-bentuk resiliensi perempuan petani di tengah konflik agraria dengan upaya sakralisasi tanah pertanian Kelelondey. Penelitian ini dilakukan di desa Raringis Utara, Langowan Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, dengan mengaplikasikan pendekatan kualitatif seperti observasi pertisipatoris, wawancara mendalam serta studi pustaka. Penulis mengkolaborasikan teori sakralisasi ruang dari Mircea Eliade dengan perspektif poskolonial dan interseksional. Perempuan petani diketengahkan sebab secara simultan mereka mengalami interseksi penderitaan yang diakibatkan oleh kolonialisme dan neokolonialisme seperti: peminggiran perempuan dari ruang sosio-kultural Minahasa, eksploitasi kerja lewat pemberian upah a-simetris serta penyerobotan wilayah pertanian oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Penelitian ini menemukan bahwa resiliensi perempuan petani yang teramati lewat percabangan resistensi menunjukan nuansa relijius yang mengintegrasi tradisi Kristen dan tradisi Minahasa, di mana tanah Kelelondey direkonstruksi sebagai Axis Mundi yang berkeadilan holistik. Oleh karena itu perjuangan perempuan petani Kelelondey dinilai sebagai upaya untuk mewujudkan keadilan bagi integritas perempuan, komunitas dan tanah ulayat melalui pengejawantahan firman Allah dan nasehat leluhur.
Copyrights © 2023