Qira>’a>t al-‘Ashrah adalah qira>’ah mutawa>tir, meskipun tiga terakhir yakni Ya’qu>b (130-205 H), Khlaf (150-227 H) dan Abu> Ja’far (...-128 H) ada yang mempermasalahkannya, tetapi menurut pendapat yang sah adalah mutawa>tir. Kesepuluh imam qira>’a>t termasuk yang tiga terakhir telah dinyatakan kemutawatirannya. Sedangkan selebihnya telah dinyatakan kesha>dznya. Jika ditarik ke sejarah qira>’ah, tentu sangat diperdebatan. Adapun qira>’ah sab’ah yang dikaitkan dengan sab’ah ah{ruf adalah pernyataan yang keliru. Sebab sab’ah pada kata ah{ruf itu merupakan peluang kemudahan bagi yang sulit membaca al-Qur’an, karena faktor usia, orang yang tidak mampu, atau anak kecil. Sedangkan qira>’ah yang berkembang setelah adanya mus}h}f Uthma>ni> itu terkait bacaan terhadap mus{h{af yang telah disepakati bersama akan kemutawa>tirannya, hanya saja mus{h{af tersebut tidak ada titik untuk membedakan ra>’ dengan za>y dan harakat untuk membedakan fath{ah dengan kas{rah dan lain sebagainya, sehingga timbul perbedaan bacaan dengan catatan tidak menyalahi dari antara mus}h}af-mus}h}af yang telah disepakati dan diriwayatkan dengan riwayat yang s{ah{i>h{..Kata Kunci: Qira>’a>t Ashrah, Sejarah, Kedudukan dan Karakteristik
Copyrights © 2022