Latar Belakang: Overactive bladder (OAB) merupakan sindrom yang mengganggu kualitas hidup, khususnya kualitas hidup wanita. Pilihan terapi farmakologis untuk OAB adalah agen antimuskarinik (80%), seperti solifenacin. Agen agonis beta-3 juga merupakan pilihan terapi farmakologis baru untuk OAB, seperti mirabegron. Inkontinensia urin urgensi merupakan gejala OAB yang paling mengganggu, sehingga perlu dilakukan penilaian apakah solifenacin dan mirabegron memberikan perbaikan gejala yang berbeda. Kasus: Seorang wanita berusia 50 tahun dengan diagnosis overactive bladder (OAB) dengan gejala urgensi, frekuensi berkemih 20 kali/hari, nokturia 3 – 4 kali/malam, dan inkontinensia urgensi tanpa tanda-tanda peradangan saluran kemih. Pembahasan: Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Pubmed, Embase, clinicaltrials.gov dan Cochrane library. Ditemukan total 532 artikel dengan hanya dua artikel meta analisis yang dicocokkan dan dinilai. Validitas, kepentingan dan penerapan meta-analisis dianalisis menggunakan tinjauan sistematik alat Oxford CEBM. Meta analisis menunjukkan bahwa solifenacin dan mirabegron tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah rata-rata episode inkontinensia urgensi. Kesimpulan: Solifenacin dan Mirabegron mempunyai pengaruh yang sama terhadap jumlah episode inkontinensia urgensi pada pasien OAB.
Copyrights © 2024