Penciptaan karya seni lukis ini terinspirasi dari lingkungan tempat tinggal penulis yang bermayoritaskan suku Karo. Pada saat acara adat masyarakat tersebut banyak menggunakan kain tradisional sebagai simbol yang biasanya dikenal kenal Uis dalam bahasa Karo yang artinya kain. Namun dengan berkembangnya zaman dan fashion sehingga membuat kain ini menjadi langka karena dahulu digunakan sebagai pakaian sehari-hari namun kini tidak lagi, hanya digunakan pada acara tertentu saja. Penciptaan ini bertujuan untuk memperkenalkan secara lebih luas tentang jenis kain tradisional Karo dalam bentuk visualisasi lukisan dan dipadukan dengan penulisan kaligrafi dengan jenis tulisan Diwani Jaly sebagai pendamping lukisan tersebut. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini berpedoman pada metode penciptaan Alma M. Hawkins. Metode ini terdapat dialam bukunya yang berjudul “Creating Through Dance” yang telah diterjemahkan oleh Sumandiyo Hadi (1990:23), yang menyatakan bahwa penciptaan seni yang baik terdiri dari tiga tahap: pertama (eksplorasi), kedua improvisation (improvisasi), ketiga pembentukan atau komposisi (forming). Hasil dari penciptaan ini menghasilkan sebanyak 12 karya seni lukis dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan kegunaan dari masing-masing kain tersebut agar masyarakat lebih memperkenal dan tidak sembarangan dalam menggunakan kain tersebut.
Copyrights © 2024