Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk negasi bahasa Muna. Bahasa daerah sangatlah bermanfaat di dalam kehidupan bermasyarakat selain sebagai pelestarian budaya daerah, bahasa daerah juga mendukung pegembangan lingusitik. Data dalam penelitian ini berupa data lisan. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan yang berasal dari informan. Teknis analisis yang digunakan dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan pendekatan simantik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bentuk-bentuk negasi dalam bahasa Indonesia adalah tidak, bukan, belum dan jangan. Bentuk-bentuk negasi dalam bahasa Muna yaitu mina, miinaho, soahino, beane, miinandoha, panaembali, beangko dan paise. Bentuk-bentuk negasi tersebut dapat berupa pernyataan, pertanyaan, maunpun jawaban ingkaran. Bentuk negasi yang berupa pernyataan, yakni miina,miinahi, soahino, koemo,beane, miinandoha dan panaembali semuanya berada di sebelah kiri numeralia, nomina, verba dan adjektiva. Bentuk negasi yang berupa pertanyaan, yakni miina,miinahi, soahino, koemo,beane, miinandoha dan panaembalisemuanya berada di awal kalimat dan ditandai oleh intonasi akhir. Dan bentuk negasi yang berupa jawaban, yakni miina,miinaho, koemo, soahino, beane, miinandoha, panaembali, paise dan beangko. Semuanya berada di belakang kalimat tanya. Kata kunci: Bentuk negasi dan bahasa Muna.
Copyrights © 2016