Church ministers organize church life institutionally and guide church member's spirituality. This research focuses on the spiritual dimension, especially on morality. Church Ministers are seen as role models and are not treated as examples only, but also as actors of good-moral. The benchmark of good-moral in this research is Christ as the main nomos because the church minister is the image of divine authority in the church's life. however, how can Christ the Nomos be interpreted, so that the service carried out is full of passion and responsibility? Therefore, this research uses the idea of vocation Dei which has nuances of responsibility fulfillment. In addition, the idea of imitatio Christi and the theology of participation are elaborated to emphasize that fulfilling the responsibility of the call to serve is an attempt to demonstrate the image of divine authority. The results of this study show that as an image of divine authority, ecclesiastical ministers are responsible for "mediating" the citizens of the congregation to the Head of the Church because they are in the two scopes. AbstrakPara pelayan gerejawi tidak hanya sekadar mengatur kehidupan jemaat secara institusional, melainkan juga membimbing perkembangan spiritualitas warga jemaat. Penelitian ini berfokus pada cakupan dimensi spiritual, terutama tentang moralitas dalam pelayanan gerejawi. Para pelayan gerejawi kemudian dilihat sebagai role model yang tidak hanya menjadi contoh, tetapi juga menjadi pelaku moral-baik. Tolok ukur moral-baik dalam penelitian ini adalah pribadi Kristus sebagai Nomos utama, karena para pelayan gerejawi adalah gambaran dari otoritas ilahi dalam kehidupan jemaat. Lantas, bagaimana Kristus Sang Nomos dapat dimaknai, sehingga pelayanan yang dilakukan penuh gairah dan tanggung jawab? Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan gagasan dari vocation Dei yang memiliki nuansa pemenuhan tanggung jawab. Selain itu, ide imitatio Christi dan teologi partisipasi dielaborasi untuk menegaskan bahwa pemenuhan tanggung jawab dari panggilan untuk melayani merupakan upaya untuk mendemonstrasikan gambaran otoritas ilahi. Hasil penelitian ini menampilkan bahwa sebagai gambaran otoritas ilahi, para pelayan gerejawi bertanggung jawab untuk menjadi “pengantara” warga jemaat kepada Sang Kepala Gereja, karena mereka berada dalam dua cakupan tersebut.
Copyrights © 2024