TAZKIYAH
Vol 3, No 1 (2013)

MENAKLUKKAN TANPA MERESAHKAN Kearifan Nilai-Nilai Pesantren dalam Pengubahan Tingkah Laku

Hasan, Syamsul Arifin ( IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo)



Article Info

Publish Date
01 Dec 2013

Abstract

Sanksi di pondok pesantren dikenal dengan istilah ta’zir. Ta’zir adalahupaya mendidik (ta’dib) lantaran dosa yang tidak disanksi dengan had ataukaffarat atau terhadap perbuatan bukan ma’shiyat yang mengacu terhadapterwujudnya kemashlahatan bersama. Umpamanya, orang yang melanggaraturan bersama (nizham).Ta’zir termasuk salah satu teknik pengubahan tingkah laku gayapesantren. Konseling yang digali dari nilai-nilai pesantren perlu kita galiuntuk membuat model konseling yang berbasis budaya Indonesia. Penelitianini amat penting—terutama bagi para konselor di lembaga pendidikan yangberbasis pesantren—agar mereka mengetahui tradisi pesantren yangberkaitan dengan bimbingan konseling. Dengan mengetahui tradisipesantren, para konselor akan memahami konseli sehingga memudahkandalam proses konseling.Penelitian ini difokuskan kepada nilai-nilai pesantren yang dapat diserapdalam bimbingan dan konseling, yaitu teknik dalam mengubah tingkah lakukonseli. Kerangka teori pada penelitian ini menggunakan perspektif teoriKonseling Indigenous. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif tipeetnografi deskriptif dan dianalisis dengan hermeneutika ganda (doublehermeneutic).Hasil dari penelitian ini, ta’zir yang diperlakukan di pesantrentujuannya untuk mengubah perilaku santri menjadi baik. Prinsip-prinsip ta’zirdi pesantren antara lain bersifat mendidik (ta’dib), memperhatikan situasisosial dan kondisi pelaku (i’tibar ahwal an-nas), serta dilakukan secarabertahap (at-tadrij). Ketiga karakteristik ta’zir itu secara tersirat,menunjukkan bahwa ta’zir yang dilakukan tanpa menggunakan kekerasan.Apalagi, beberapa tradisi pesantren yang berkaitan dengan pengubahantingkah laku juga tanpa kekerasan: pepatah “megek klemar ainga se tak lekko(menangkap ikan wader, airnya jangan sampai keruh)”, memberi tantangansantri nakal, mempermudah tidak mempersulit, Gerbat (Riyadhah‘ubudiyah),bertahap dan istiqamah. Ta’zir yang demikian, mirip dengan konseppunishment (dalam konseling behavioral)Pengubahan tingkah laku yang dilaksanakan kaum pesantren dapatdisimpulkan bahwa mereka menyelaraskan antara aspek lahiriyah danbathiniyah. Misalnya, dalam menerapkan Gerbat (riyadhah ‘ubudiyah),kalangan pesantren menyeimbangkan dimensi format lahir (shurah zhahirah)dan hakikat terdalam (haqiqah bathinah). Pengubahan tingkah laku yangmenyeimbangkan kedua aspek tersebut, tujuannya agar orang yang diubahtersebut menjadi baik budi bekertinya (akhlaq al-karimah).

Copyrights © 2013