Mental health is both a personal and structural issue in Indonesia. In the context of the increasingly critical issue of women's mental health, particularly when faced with social, cultural, and psychological challenges, the story of Abigail in 1 Samuel 25 provides insights into the wisdom and resilience of women in overcoming challenges and difficulties. Asian feminist hermeneutics is utilized because this perspective offers an analysis from the viewpoint of women, addressing a research gap due to the limited studies in feminist hermeneutics in Asia that specifically explore the theology of women's mental health through biblical narratives. This article aims to construct an Old Testament theology regarding women's mental health in Indonesia. Thus, the story of Abigail in 1 Samuel 25 can be constructed as a theology of mental health that emphasizes personal wisdom with therapeutic potential, where women can assume the role of resilient figures amid mental health issues. AbstrakPermasalahan mental di Indonesia merupakan permasalahan yang personal namun juga strukturral. Dalam konteks isu kesehatan mental perempuan yang semakin penting, terutama dihadapkan pada tantangan sosial, budaya, dan psikologis, kisah Abigail di 1 Samuel 25 menawarkan wawasan tentang kebijaksanaan dan ketahanan perempuan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Hermeneutik feminis Asia dipakai karena perspektif ini menawarkan suatu analisis dari perspektif perempuan, yang mana di sisi lain gap penelitian terletak pada keterbatasan studi hermeneutik feminis di Asia yang khusus mengkaji teologi kesehatan mental perempuan melalui narasi Alkitab. Artikel ini bertujuan untuk mengonstruksi teologi Perjanjian Lama terhadap kesehatan mental perempuan di Indonesia. Maka kisah Abigail dalam 1 Samuel 25 dapat dikonstruksi sebagai teologi kesehatan mental yang menekankan pada hikmat personal yang terapeutik di mana perempuan dapat mengambil peran sebagai sosok yang resilien di tengah pemasalahan mental
Copyrights © 2024