Seiring dengan maraknya individu ikut berkontribusi mencalonkan diri sebagai calon legislatif (Caleg) dalam kontestasi politik pemilihan umum (Pemilu) 2024 telah memberi dampak yang signifikan terhadap wibawa atau ikon religius yang menjadi panutan kaumnya dalam masyarakat. Sikap dan perbuatan para pemuka adat yang menghadiri hampir setiap kegiatan Caleg menimbulkan persepsi negatif terhadap pemuka adat terkait. Kedudukan pemuka adat yang semula menjadi panutan mulai tergugat karena sikap dan perilaku yang ambiguitas terhadap Caleg yang akan diusung dalam kaumnya. Metodologi penelitian dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, metode mengumpulkan data menggunakan wawancara secara mendalam (In depth interview) terhadap beberapa informan. Kedua, metode pemilihan informan menggunakan kaedah Snowball di mana informan pertama sebagai informan kunci. Informan pertama akan memberikan rekomendasi kepada pengkaji tentang siapa informan kedua, dan selanjutnya sampai ke informan terakhir. Informan terdiri dari 6 informan. 2 informan berasal dari kaum ibu sebagai bundo kanduang, 2 infoman berasal dari kemenakan dan 1 informan berasal dari pemuka agama dan 1 informan berasal dari calon legislatif. Analisis kajian menggunakan kualitatif karena menggunakan menggunakan pendekatan etnografi. Hasil temuan kajian mendapati bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya persepsi negatif oleh masyarakat terhadap pemuka adat karena sikap ketidakjelasan pilihan kandidat Caleg yang akan dipilih pemuka adat.
Copyrights © 2024