JPS
Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024

KAMOMOSE LAKUDO: PERUBAHAN TRADISI DARI SAKRAL KE PROFAN

Awat, Rustam (Unknown)



Article Info

Publish Date
24 Aug 2024

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi kamomoose di masa lalu dan sekarang; 2) Untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi kamomoose. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan tradisi kamomoose di masa lalu dilakukan dengan tujuan sebagai ajang pencarian jodoh. Sebelum komomoose digelar, para gadis akan dihadirkan pada acara matano kahia'a (malam puncak pingitan). Mereka akan dikukuhkan secara adat sebagai gadis dewasa yang dirangkaikan dengan acara kamomoose. Di malam puncak acara pingitan, kamomoose digelar oleh dewan adat (saha) di depan galampa atau balai pertemuan adat. Waktu pelaksanaan kamomoose itu didasarkan atas perhitungan malam bulan di langit yaitu empat belas malam bulan atau lima belas malam bulan. Para tokoh adat akan membuka acara dengan menabur kacang (fopanga) mengelilingi gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut. Setelah itu lalu diikuti oleh para pemuda yang bersiap untuk memasuki acara kamomoose sambil menjatuhkan kacang dan terkadang pula benda berharga ke dalam baskom yang ditujukan pada perempuan yang dicintainya. Di masa kini, kamomoose dilaksanakan dengan tujuan sebagai hiburan semata, sebagai momen silaturahmi dengan keluarga, sahabat, dan para tetangga untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Penetapan pelaksanaan tradisi kamomoose sekarang dilaksanakan setiap tahun secara perorangan, setelah lebaran idul fitri, dengan harapan suasana kampung menjadi ramai karena banyak dari para perantau yang pulang ke kampung halaman. 2) Faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi kamomoose adalah hilangnya tradisi pingitan (ombo) pada masyarakat Lakudo. Tradisi kamomoose dari yang sebelumnya bersifat sakral menjadi profan, dari tradisi menjadi hiburan semata disebabkan karena sudah tak ada lagi tradisi pingitan. Hilangnya tradisi pingitan merupakan faktor utama yang mengubah pelaksanaan tradisi kamomoose mulai dari tujuan pelaksanaan, tempat pelaksanaan, waktu pelaksanaan, hingga gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut.

Copyrights © 2024






Journal Info
JPS

Abbrev

sejarah

Publisher

Subject

Arts Library & Information Science Social Sciences Other

Description

Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan mengkaji berbagai hal diantaranya kajian tentang kebudayaan, sejarah, dan penelitian tindakan kelas. Lembaga Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November). Redaksi menerima dari staf pengajar (guru dan dosen), ...