Surah Al-Tin is a surah where most of the verses begin with a qasam (oath). Every qasam has muqsam bih which comes after it. The muqsam bih recitations in Surah Al-Tin have good meanings as written by the commentators. After muqsam bih which means good, then a verse suddenly appears which has the meaning of insulting humans who do bad things. Here the author wants to know what is the relationship between muqsam bih which has a good meaning and some muqsam alaih (contents of surahs) which explain bad connotations (contempt for humans who do bad things). Using Ferdinand De Saussure's semiotic theory, the writer tries to analyze the structure of Surah Al-Tin to find the relationship between qasam, muqsam bih, and muqsam 'alaih. This study uses a qualitative method, namely by analyzing existing data to find a new theory from the results of the analysis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara muqsam bih dan muqsam ‘alaih dalam Surah Al-Tin dengan menggunakan analisis linguistik Ferdinand de Saussure. Penelitian merupakan kajian pustaka dengan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa surah al-Tin yang diawali dengan qasam (sumpah) ternyata menyimpan makna kebaikan. Setiap qasam memiliki muqsam bih yang datang setelahnya. Lafal-lafal muqsam bih dalam Surah al-Tin memiliki makna yang baik-baik yang kemudian muqsam bih yang bermakna baik tersebut disusul dengan ayat yang memiliki makna penghinaan terhadap manusia yang mengerjakan keburukan. Adapun hubungan antara muqsam bih dan muqsam ‘alaih dalam surah al-Tin yaitu menjadi tanda bahwa Allah akan membalas manusia dengan kasih sayang dan keadilan sesuai dengan amal perbuatan mereka.
Copyrights © 2024